Wednesday, June 24, 2009

Sriwijaya FC ke Final, Bertemu Persipura

Berita lanjutan dari babak semifinal Copa Dji Sam Soe dikutip dari Kompas.com:

Sriwijaya FC akan bertemu Persipura Jayapura dalam final Copa Dji Sam Soe 2008 setelah menundukkan Persijap Jepara 3-1 (2-0), Rabu (24/6) di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan.

Gol pertama Sriwijaya FC dihasilkan melalui tendangan striker Budi Sudarsono. Pada menit ke-27, Sriwijaya FC menciptakan gol kedua melalui tendangan Obiora.

Persijap mendapatkan peluang membalas gol melalui tendangan penalti oleh Pablo Frances pada menit ke-53, tetapi tendangan Pablo terlalu melambung. Gol ketiga Sriwijaya FC terjadi pada menit ke-74 hasil tandukan Obiora.

Satu-satunya gol balasan Persijap diciptakan Pablo Frances tiga menit sebelum pertandingan bubar hasil umpan silang Enjang Rohiman.

Pelatih Sriwijaya FC Rahmad Darmawan merasa puas dengan penampilan anak asuhnya. Menurut Rahmad, saat ini yang harus dilakukan adalah menjaga motivasi pemain tetap di puncak.

Pelatih Persijap Junaidi mengungkapkan, pihaknya tidak terlalu menargetkan dapat tampil di final karena kalah kelas. Sekarang Persijap fokus menghadapi laga perebutan tempat ketiga melawan Deltras.

Komentar

Juara tahun lalu ditantang oleh juara Liga Super Indonesia tahun ini. Kalau tahun lalu Sriwijaya FC merebut dua gelar, pada kali ini bukan tak mungkin mahkota itu direbut oleh Persipura. Sangat pantas kalau pemenangnya kita anggap sebagai juara sejati Indonesia. Bertandinglah dengan sportif.

Sunday, June 21, 2009

TUAN RUMAH TANPA GELAR

Berita dari Bolanews.com:

Hasil buruk diraih pebulutangkis Indonesia di ajang Indonesia Open Super Series 2009. Tidak satupun gelar yang mampu rebut pebulutangkis tuan rumah. Kekalahan Taufik Hidayat atas andalan Malaysia, Lee Chong Wei di pertandingan final, Minggu (21/6), semakin melengkapi penderitaan Indonesia.

Taufik yang merupakan pemain non-pelatnas menyerah dua set langsung 9-21 14-21 dari Chong Wei dalam laga di Istora Gelora Bung Karno. Kemenangan ini membuat Chong Wei mengulang prestasi tahun 2007.

Taufik yang merupakan satu-satunya harapan Indonesia di final tidak mampu menghentikan gempuran Chong Wei. Taufik kalah segalanya dari Chong Wei yang merupakan unggulan pertama. Chong Wei hanya membutuhkan waktu sekitar 12 menit untuk merebut kemenangan set pertama 21-9.

Pada set kedua, Taufik mencoba untuk mengimbangi permainan Chong Wei. Sayang, Chong Wei yang jeli dalam memainkan bola-bola net membuat Taufik yang berada di unggulan kelima itu kesulitan untuk mengembangkan permainan. Unggul fisik dan smes yang tajam membuat Chong Wei kembali menang 21-14 dalam waktu 32 menit.

Kekalahan Taufik sekaligus melengkapi kegagalan Indonesia. Ganda campuran dan ganda putra yang diharapkan bisa merebut juara justru tersingkir sebelum laga final. Pasangan Widianto/Liliyana Natsir kalah di perempatfinal sedangkan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan tumbang di semfinial.

Komentar
Tidak salah memang kalau kini Indonesia memiliki julukan baru, sebagai negara penyelenggara berbagai kejuaraan. Untuk menyelenggarkan sesuatu, Indonesia terbilang sukses. Bahkan yang satu ini terbilang istimewa. Sudah sukses menyelenggarakan kejuaraan bulutangkis, sukses pula memberikan hadiah kepada para tamu. Menggembirakan tapi menyedihkan.

Sunday, June 14, 2009

Mengejutkan, Persitara akan Dijual

Korban berjatuhan lagi. Klub dilanda prahara setelah dililit persoalan keuangan. Kali ini datang dari Persitara. Tidak bubar memang, tapi akan dijual. Berita dari Kompas.com itu lengkapnya sebagai berikut:

Manajer klub Persitara Jakarta, Hary Ruswanto terkejut setelah mendengar kabar bahwa klub berjuluk "Laskar Si Pitung" ini bakal dijual musim depan.

"Saya belum mendengar secara resmi. Belum ada pembicaraan resmi ketua umum dengan jajaran manajemen berkaitan soal itu," kata Hary kepada wartawan di Jakarta, Minggu (14/6).

Hary yang sukses membawa klub Persitara sejak Divisi II regional hingga Super Liga musim ini menyatakan kecewa jika memang tim Persitara dijual.

"Karena saya paling merasakan bagaimana perjuangan membawa tim ini sampai ke Liga Super, bahkan baru-baru ini semua tahu bagaimana tim ini berusaha bisa bertahan di Liga Super," katanya.

"Ini merupakan keputusan yang bisa membuat kami syok, tapi bagaimanapun, wewenang bukan ada pada saya. Saya hanya pelaksana teknis di lapangan, dan Persitara bagi kami adalah segalanya, tim kebanggaan warga Jakarta juga," kata Hary yang akrab disebut Gendhar ini.

Hal serupa juga menimpa klub Persijatim FC yang dijual ke Sumsel menjadi Sriwijaya FC, beberapa tahun lalu.

Kabar bakal dijualnya Persitara ini muncul setelah Ketua Umum Persitara Effendi Anas menyatakan pihaknya akan melepas Persitara ke pihak lain, mengingat minimnya dukungan dana dari Pemerintah Kota Jakarta Utara musim depan.

"Dengan berat hati, kami harus memutuskan menjual tim ini. Persitara jika terus jalan tidak akan kuat dalam hal dukungan finansial. Maka dari itu, kami akan jual tim ini," kata Effendi Anas yang dihubungi wartawan.

Apalagi, tim yang dipastikan musim depan tetap berlaga di kancah tertinggi Indonesia Super League (ISL) itu minim dukungan pihak Pemkot. Persitara mulai menanjak dari kompetisi terendah Divisi II regional (kasta sepak bola terendah di Indonesia), kini menjadi tim yang berada di kasta sepak bola tertinggi, ISL.

"Memang kami tahu perjuangan elemen tim dan semua pengurus sejak dulu. Tapi bagaimana lagi, Walikota Jakarta Utara (Bambang Sugiyono, Red) saja tidak mau memegang tim ini, bagaimana bisa eksis tim ini tanpa dukungan birokrat. Saat ini kami sedang menjajaki pembeli tim ini," kata mantan Walikota Jakarta Utara itu.

Sementara Walikota Jakarta Utara Bambang Sugiyono belum lama ini menyatakan tidak mau memegang Persitara dengan alasan sibuk.

Jakarta Utara merupakan wilayah kota administratif Jakarta yang memiliki klub internal sepak bola yang luar biasa. Buktinya, ada 33 klub internal Divisi Utama, 33 klub Divisi I dan tiga kompetisi Kelompok Umur (KU) yang semua jalan di wilayah Jakut. Bukan itu saja, ada tiga stadion sepak bola yang dimiliki Jakut: Stadion Kamal Muara, Stadion Rawa Badak, dan Stadion Tugu Jakarta Utara.

Komentar
Ketergantungan pada birokrat sekian lama membuat mereka hilang kemandiriannya. Kenapa selama itu tidak memikirkan soal kemandirian klub? Sekarang setelah ancaman dana dari APBD hilang menjadi terkaget-kaget. Cara pintas, jual! Yang dikorbankan adalah pembinaan klub anggotanya, bukan tidak mungkin bakal terbengkalai. Seyogyanya mulai sekarang melakukan kemandirian klub dengan melibatkan sponsor dan pihak swasta lainnya.

Wednesday, June 10, 2009

PKT Bertahan Meski Masa Depan Samar

Sepakbola Indonesia lagi-lagi melantunkan lagu bimbang. Kaitannya apa lagi kalau bukan soal masa depan klub. Inilah yang dirasakan oleh PKT Bontang seperti dikutip dari Kompas.com.

PKT Bontang memastikan diri bertahan di Djarum Super Liga Indonesia dengan membungkam Pelita Jaya 5-1 (2-1) pada laga akhir di Stadion Mulawarman, PT Pupuk Kalimantan Timur, Kota Bontang, Rabu (10/6).

Dua gol pesta kemenangan PKT dicetak Josiah Setton pada menit ke-16 dan ke-71. Dua gol lainnya dicetak James Debbah pada menit ke-28 dan ke-59. Gol oleh Titus Bonai pada menit ke-85 melengkapi kemenan gan PKT. Gol hiburan Pelita Jaya dicetak Cristiano Lopez pada menit ke-44.

Hasil tersebut membuat PKT tidak menjalani laga play off atau berebut satu tempat di liga melawan Persebaya Surabaya. Laga tersebut harus dilakoni PSMS Medan yang dihancurkan tuan rumah Persiwa Wamena 5-0.

Meski demikian, masa depan Laskar Khatulistiwa ini masih samar. Belum bisa dipastikan siapa yang akan membiayai keperluan tim musim depan. "PKT tidak mengucurkan dana lagi sehingga mungkin akan ditangani oleh Pemerintah Kota Bontang," kata Asisten Manajer Bontang PKT Prayitno Hadi saat dihubungi dari Kota Samarinda.

Komentar

Bisa ditebak kelanjutan dari berita ini, bahwa Pemkot Bontang juga akan berpikir seribu kali mengeluarkan biaya besar untuk PKT. Persoalannya adalah adanya peraturan Mendagri yang tidak mengizinkan pemakaian dana APBD bidang sosial/olahraga untuk keperluan sepakbola secara penuh. Melanggar aturan ini bisa ke penjara.

Tapi, ada juga yang berhasil, Persija Jakarta umpamanya. Asal disetujui oleh DPRD, yang merupakan perwujudan masyarakat, bisa berjalan sesuai harapan. Tinggal kini adalah porsi kepentingannya. Ayolah berbicara dengan rasional dan kepala dingin.



Sunday, June 7, 2009

Jaya Hartono Isyaratkan Hengkang dari Persib

Indonesia Super League (ISL) sudah melahirkan juara, yaitu Persipura. Tapi, cerita tentang Persib masih saja menarik. Berikut yang dikutip dari Kompas.com:

Pelatih Persib Bandung, Jaya Hartono, mengisyaratkan untuk hengkang dari klub tersebut, setelah kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim 2008-09 berakhir.

Jaya Hartono yang dihubungi wartawan di Surabaya, Minggu (7/6) mengungkapkan, hingga saat ini belum ada pembicaraan dengan manajemen "Maung Bandung", julukan Persib, terkait perpanjangan kontrak.

"Sampai sekarang belum ada pembicaraan apa-apa. Bahkan rencana Persib mendirikan perusahaan juga belum jelas," katanya.

Mantan pelatih Deltras Sidoarjo ini mengaku senang melatih tim berjuluk "Maung Bandung" itu, kendati gagal membawa Persib meraih prestasi puncak di ISL dan Copa Indonesia musim ini. Padahal, materi pemain yang dimiliki Persib musim ini cukup tangguh dan solid.

Namun, untuk perpanjangan kontrak, Jaya Hartono setidaknya membutuhkan kepastian dan keseriusan dari manajemen tim, terutama menyangkut pendanaan untuk kompetisi musim depan.

"Makanya saya belum mau bicara lebih jauh soal itu. Sampai sekarang, dana yang dimiliki Persib untuk kompetisi musim depan juga belum jelas," kata pelatih yang sukses membawa Persik juara Liga Indonesia musim 2003.

Mantan pemain nasional ini juga mengaku belum mendapat tawaran dari klub mana pun untuk kompetisi musim depan. Saat ini, Jaya Hartono masih berkonsentrasi menyelesaikan tugasnya mendampingi Persib yang tinggal menyelesaikan satu pertandingan, melawan Persija Jakarta di Malang, Rabu (10/6).

Pertandingan itu cukup krusial bagi Persib untuk mengamankan posisinya sebagai runner-up klasemen akhir ISL. Persib kini mengumpulkan poin 63, sama dengan poin yang dimiliki Persiwa Wamena.

Apabila kalah dari Persija, sementara Persiwa mampu mengatasi PSMS Medan pada laga terakhir, posisi Persib akan tergusur Persiwa.

Namun, jika kedua tim meraih hasil imbang, Persib tetap kokoh di posisi dua, karena unggul dalam selisih gol.

"Peluang untuk bertahan di runner-up tetap terbuka dan saya optimistis anak-anak bisa mengatasi Persija," kata Jaya Hartono.

Komentar
Gagal menjadi juara, jadi runner up sebenarnya sudah bagus. Hanya memang perlu perjuangan keras mengingat posisi Maung Bandung itu masih goyah. Soal akan hengkangnya Jaya Hartono, semuanya diserahkan kepada yang bersangkutan dan Persib sendiri. Hanya memang jangan sampai ada pelanggaran peraturan di sini.

Di tengah tim-tim elit pernah merasakan berada di puncak kompetisi dalam beberapa tahun belakangan, nasib Persib memang masih belum bagus. Mereka sering lebih prima di awal-awal kompetisi, sebelum kedodoran di akhir kompetisi. Pekerjaan rumah buat pelatih Persib yang baru jika Jaya tak diperpanjang kontraknya. Bermain stabil dari awal hingga akhir kompetisi!

Wednesday, June 3, 2009

Indonesia Kejar 54 Emas SEA Games

Berita dari Kompas.com tentang target kontingen kita di SEA Games Laos.

Indonesia berharap mendapatkan 54 medali emas, 38 perak dan tiga perunggu pada ajang SEA Games Laos yang akan berlangsung pada Desember 2009

"Proyeksi raihan 54 medali agar Indonesia menempati peringkat tiga besar," kata ketua Program Atlet Andalan Sutjipto dalam acara "Rekapitulasi Proyeksi Medali SEA Games 2009" di Hotel Century Park, Senayan, Jakarta, Rabu.

Acara tersebut dihadiri juga oleh Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Mennegpora) Adhyaksa Dault, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI)/Komite Olahraga Internasional Rita Subowo dan Deputi V Menteri Koordinator Kesejahteraan (Menko Kesra) Rakyat Sugihartamto serta sejumlah atlet dan pelatih.

Sutjipto mengatakan proyeksi perolehan medali Indonesia pada ajang SEA Games 2009 tersebut dikalkulasikan berdasarkan hasil latihan dan beberapa ujicoba (try out) para atlet selama digembleng dalam pembinaan PAL yang digulirkan kemennegpora, KONI/KOI dan Menko Kesra.

Berdasarkan rekapitulasi PAL, proyeksi medali pada ajang kompetisi olahraga dua tahunan tersebut meliputi cabang atletik sebanyak 10 emas, 13 perak, satu perunggu disusul balap sepeda (6 emas/1 perak), angkat besi (5 emas/7 perak), pencak silat (5 emas), bulutangkis (5 emas), panahan (3 emas/4 perak), judo (3 emas/1 perak/1 perunggu), wushu (3 emas/1 perak), renang (2 emas/3 perak/1 perunggu), biliar (2 emas/2 perak), tenis (2 emas/1 perak), gulat (2 emas /1 perak), taekwondo (2 emas), menembak (1 emas/2 perak), tinju (1 emas/1 perak) dan tenis meja (1 emas/1 perak).

Guna meraih proyeksi medali emas, PAL mencanangkan Indonesia akan menurunkan 176 atlet pada 16 cabang olahraga pada SEA Games 2009 dan menargetkan menempati posisi tiga besar setelah Thailand dan Vietnam. "Lawan Indonesia yang harus dikalahkan untuk menempati tiga besar bukan Thailand atau Vietnam, tetapi Malaysia," kata Sutjipto seraya menambahkan proyeksi raihan medali emas Indonesia harus mencapai 15 persen dari 369 medali yang diperebutkan pada SEA Games 2009 di Laos.

Disinggung mengenai kekuatan Thailand dan Vietnam, Sutjipto menuturkan kedua negara tersebut memiliki kekuatan yang merata pada seluruh cabang olahraga sehingga Indonesia sedikit kesulitan untuk mengatasinya.

Sementara itu, Menpora Adhyaksa Dault mengatakan proyeksi menempati posisi tiga besar merupakan target yang realistis karena ada beberapa cabang olahraga yang menjadi andalan Indonesia untuk meraih medali emas, namun tidak dipertandingkan pada ajang kompetisi antar negara di Asia Tenggara tersebut, antara lain rowing, kano, anggar dan bowling."Realistis-lah menempati posisi tiga itu sangat sulit, tetapi Indonesia harus yakin dapat meraih target itu," kata Adhyaksa.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginginkan Indonesia menembus posisi tiga besar pada SEA Games Laos yang digelar sekitar enam bulan mendatang. Pada SEA Games Thailand 2007, Indonesia menempati posisi empat dengan raihan 56 emas, 64 perak dan 83 perunggu.

Setelah berhasil meraih peringkat tiga, Adhyaksa menargetkan Indonesia meraih gelar juara umum pada saat menjadi tuan rumah SEA Games 2011, dengan upaya melakukan pembinaan regenerasi atlet elit melalui PAL.

Komentar

Mudah-mudah bisa tercapai. Tapi, biasanya target yang dicanangkan meleset. Tiga besar memang target yang wajar. Yang perlu diperhatikan adalah kekuatan lawan yang diprediksi di bawah kita, seperti Malaysia dan Singapura. Dalam beberapa SEA Games lalu sering kita dikalahkan oleh kelemahan intelejen olahraga kita sehingga di lapangan terkeju dengan prestasi lawan. Uji coba menjadi suatu alat pemantauan, tapi pemanfaatan sumber lain, seperti perwakilan negeri kita di negara lawan perlu dilakukan. Untuk melihat dari dekat persiapan lawan.

Kalau target juara umum di kandang sendiri sih biasa saja. Yang luar biasa kalau di Laos menjadi juara umum. Mampu, bung?


Sunday, May 31, 2009

Pemain PSIS Belum Terima Gaji

Berita dari Kompas.com ini merupakan satu di antara sekian berita tentang nasib pemain di klub-klub sepakbola Indonesia. Mereka ibarat berselancar menggolkan dana APBD untuk kegiatan klubnya. Padahal cara itu tidak dibenarkan. Berita lengkapnya sbb:

Pemain PSIS Semarang sampai kini belum menerima gaji bulan Mei 2009, padahal dalam kontrak disebutkan bahwa pelunasan gaji dilakukan 31 Mei 2009.

"Kami semua belum gajian, padahal sesuai dengan draf kontrak baru - saat tim tidak jadi dibubarkan - gaji akan dibayarkan 31 Mei 2009. Surat kontrak ini yang membuat manajemen dan kami hanya menandatangani," kata Idrus Gunawan, seorang pemain PSIS pada pers di Semarang, Minggu (31/5).

Menurut dia, dirinya selalu mendapat pertanyaan soal itu dari teman-temannya di tim terutama yang berasal dari luar Semarang.

"Mereka yang berasal dari luar Semarang sering menanyakan kepada saya kapan gajian. Saya sendiri bingung menjawabnya kemudian saya mencoba menghubungi manajemen tetapi tidak ada jawaban," katanya.

"Jika ditelepon, kadang tidak diangkat. Mungkin mereka sedang sibuk, saya juga tidak tahu," kata pemain senior di tubuh tim Mahesa Jenar ini.

Ia berharap manajemen bisa segera memenuhi hak-hak pemain untuk bulan ini, apalagi kalau dilihat dari sisi loyalitas dan dedikasi pada tim, tidak perlu diragukan lagi. Pada saat ini, kondisi tim serba sulit dapat diibaratkan "mati suri" masih tetap bersemangat membela PSIS.

Pemain PSIS yang lain, Deni Rumba, juga berharap manajemen dapat segera membayar hak-hak semua pemain untuk bulan ini, mengingat manajemen sendiri yang membuat perjanjian akan membayar gaji bulan ini paling lambat tanggal 31.

"Kami belum mendapat kabar untuk gaji bulan ini dan kami akan menanyakan hal itu saat tim berlatih di Stadion Jatidiri Semarang, Senin (1/6)," katanya.

"Kami akan menunggu hingga Senin (1/6). Kami berharap semuanya akan beres karena jika sudah dibayarkan tentunya kami tenang dan siap melakukan latihan untuk persiapan pertandingan selanjutnya," katanya.

PSIS Semarang masih menyisakan dua pertandingan lagi, yaitu melawan tuan rumah PKT Bontang (6/6) dan Persiba Balikpapan (10/6). Hasil apa pun yang dicapai tim asuhan pelatih Ahmad Muhariah dan kawan-kawan pada dua pertandingan tersebut tidak akan mempengaruhi tim yang sudah pasti terkena degradasi pada musim kompetisi tahun ini.

Saat ini tim Mahesa Jenar berada pada urutan terbawah klasemen sementara Liga Super dengan nilai 21, yaitu dari 32 kali main, empat kali menang, sembilan kali seri, dan 19 kali kalah.

Komentar
Sudah waktunya klub-klub sepakbola di Tanah Air hidup dengan cara mandiri. Dana dicari sendiri tanpa mengandalkan APBD. Ciri mandiri menunjukkan kesanggupan mereka masuk ke dalam kancah sepakbola profesional.

Kalau ketergantungan terus kepada APBD, sulit sepakbola kita akan maju. Persoalan seperti ini pun akan terus terulang.