Dr (doktor) adalah jenjang kelas di perguruan tinggi, yakni Strata (S)-3. Di bawahnya ada S-1 dan S-2. Kalau di bidang sepakbola bolehlah diumpamakan S-1 untuk pemain nasional, S-2 meningkat menjadi pelatih klub, sedangkan untuk S-3 adalah pelatih tim nasional.
Rahmad Darmawan, yang biasa disapa RD, pelatih timnas usia 23 yang baru saja membawa Indonesia meraih medali perak di SEA Games XXVI lalu mengundurkan diri dari jabatannya, sudah berada di S-3 atau di tingkat doktor (Dr). Keputusan Dr. RD untuk mundur banyak disayangkan, tapi banyak juga yang menyetujuinya.
Wajar memang menimbulkan kontroversial, karena ia mundur dianggap telah sukses membawa Garuda Muda. Di lain hal, ia terjepit di antara lilitan PSSI dan pesaingnya (PT. Liga Indonesia). Apalagi PSSI sudah melontarkan pernyataan kalau pemain yang bermain di kompetisi oleh PT. Liga Indonesia (Liga Super Indonesia) tidak boleh bermain di tim nasional. Ia merasa terbebani oleh batasan tersebut.
RD akhirnya menjadi simbol kesuksesan tapi juga pemberontakan. Pemberontakan di sini hanya berbeda, ia berharap dengan sikapnya itu bisa menyatukan PSSI dengan PT. Liga Indonesianya.
Entah telah terbaca atau belum sikap RD, Ketua Umum PSSI, Johar Arifin Husin, dan Wakilnya, Farid Rahman, yang diundang ke Tokyo sehubungan Piala Dunia Antarklub, ingin juga memohon kepada FIFA untuk memperbolehkan pemain-pemain yang ikut kompetisi di luar kompetisi PSSI (LSI) bisa memperkuat tim nasional.
Surat pengunduran diri RD memang belum dijawab oleh PSSI, mengingat kontrak antara RD dengan PSSI berakhir bulan depan. Artinya, jika saja Johar bisa meyakinkan FIFA agar mengizinkan pemain-pemain dari mana pun bisa membela timnas, maka peluang kontrak jalan terus terbuka lebar.
Tapi bisa saja keputusan RD sudah bulat, tidak lagi menunggu apa yang akan dijawab oleh PSSI terhadap suratnya. Di sinilah sikap RD diuji kembali. Rasanya hal itu akan mudah diatasi mengingat ia sudah meraih tingkatan doktor.
Thursday, December 15, 2011
Thursday, April 14, 2011
Pelajaran Berharga Agum di KSN
Ditunjuknya Agum Gumelar sebagai Ketua Komite Normalisasi PSSI disambut gembira banyak pihak. Kepemimpinan Agum sudah diuji di berbagai tempat, baik itu di lingkungan PSSI maupun olahraga Indonesia pada umumnya. Ia pernah menjadi Ketua Umum PSSI dan juga Ketua Umum KONI Pusat. Terkahir jabatannya adalah Ketua Kongres Sepakbola Nasional (KSN).
Sementara itu, untuk jabatan di luar olahraga, dari tingkat Menteri sampai Gubernur Lemhanas, ia pernah duduki. Ia pun sempat menjadi Calon Wakil Presiden bersama pasangannya, Hamzah Haz, dalam Pemilihan Umum 2004. Kemudian ia juga sempat mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat dalam Pilkada Jabar 2008.
Sementara itu, untuk jabatan di luar olahraga, dari tingkat Menteri sampai Gubernur Lemhanas, ia pernah duduki. Ia pun sempat menjadi Calon Wakil Presiden bersama pasangannya, Hamzah Haz, dalam Pemilihan Umum 2004. Kemudian ia juga sempat mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat dalam Pilkada Jabar 2008.
Namun, di balik pengalaman-pengalaman itu tetap saja ada kegundahan kepada kepemimpinan Agum ini. Hal ini muncul kalau kita membuka lembaran-lembaran sejarah yang terjadi dalam KSN yang berlangsung di Malang, 30-31 Maret 2010. Walau menelorkan pasal-pasal yang mengikat PSSI, seperti strukturisasi dan reformasi organisasi PSSI yang kahirnya menjadi bola panas, tapi kejadian di rapat pleno di sesi terakhir tetap membekas.
Pasalnya ketika itu, sebagai pimpinan sidang Agum menjadi bulan-bulanan pengurus PSSI di bawah ketuanya saat itu Nurdin Halid. Satu persatu pengurus PSSI memprotes hasil keputusan KSN yang telah dirumuskan oleh tim perumus yang juga diketuai oleh Agum. Akhirnya, satu keputusan menyangkut perlu dibentuknya Dewan Sepakbola Nasional dicabut.
Pasalnya ketika itu, sebagai pimpinan sidang Agum menjadi bulan-bulanan pengurus PSSI di bawah ketuanya saat itu Nurdin Halid. Satu persatu pengurus PSSI memprotes hasil keputusan KSN yang telah dirumuskan oleh tim perumus yang juga diketuai oleh Agum. Akhirnya, satu keputusan menyangkut perlu dibentuknya Dewan Sepakbola Nasional dicabut.
Misalnya, ketika disebutkan oleh Nurdin bahwa dua wakil PSSI di tim perumus dianggap ditekan dalam sidang-sidang untuk merumuskan kesimpulan KSN. Padahal kenyataannya, sidang-sidang berlangsung mulus, tanpa ada tekanan. Jawaban Agum dalam sidang pleno tidak didengar sama sekali oleh Nurdin cs.
KSN pun berkahir dengan beraneka ragam pendapat orang melihatnya. KSN dianggap berakhir dengan kemenangan berada di tangan PSSI, organisasi yang sebenarnya paling disorot dalam KSN untuk direformasi. Bahkan ada yang bilang KSN gagal mereformasi PSSI, KSN gagal mencapai tujuannya.
Pelajaran Berharga
Kelemahan kepemimpinan di KSN menjadi pelajaran berharga buat Agum. Agum memang sosok yang dikenal demokratis, mengayomi, tapi bukan berarti harus lemah saat dipojokkan oleh seseorang.
Kondisi sekarang rada mirip dengan KSN. Pihak-pihak yang terlibat nanti adalah para anggota PSSI yang ketika KSN dulu bersuara paling lantang menentangnya. Bedanya, para anggota PSSI sekarang ini sudah banyak berseberangan dengan Nurdin. Nurdin dan sekjen PSSI, Nugraha Besoes pun tidak bisa aktif lagi. Tapi, bukan berarti ketegasan Agum tidak diperlukan di sini. Justru faktor ini harus dikedepankan, mengingat adanya pengalaman di KSN dulu.
Posisi Agum sekarang ini memang menguntungkan, bisa berdiri di semua pihak. Dalam politik, ia pernah berada di era Soeharto, Gus Dur, Megawati, dan kini sebagai "suami Menteri" era SBY. Dalam sepakbola, dari arena lokal sampai nasional pernah ia urusi, bahkan semua olahraga pernah dikelolanya.
Namun, kondisi ini bisa juga merugikannya. Ia ingin semua orang senang, padahal bisa saja dalam memutuskan sesuatu ada pihak yang tidak setuju. Dalam era demokrasi hal itu wajar.
Dalam hal prestasi semasa dia menjabat, baik itu ketika jadi Ketua Umum PSSI dan Ketua Umum KONI, juga tidak ada yang ditoreh tinggi. Tim nasional tidak pernah juara SEA Games. Kontingen kita pun tidak pernah juara umum SEA Games, prestasi yang pernah diraih oleh Indonesia sebelum era Agum.
Lepas dari itu keputusan FIFA dan setujunya Menpora kepada Agum sebagai ketua Komite Normalisasi, menjadi harapan bagi insan sepakbola Indonesia untuk keluar dari kemelut PSSI yang melelahkan ini. Agum punya kelebihan yang paling menonjol, yaitu sebagai orang yang dikenal iklas dalam bekerja keras. Dan saya yakin ia menerima tugas yang maha berat ini karena iklas ingin membenahi sepakbola Indonesia. Orang iklas akan diberkati Tuhan.
Buktinya di KSN, walau ia agak lemah di sidang pleno sehingga butir keputusan Dewan Sepakbola Nasional yang diprotes keras Nurdin cs. dicabut tapi butir lain tentang restrukturisasi dan refromasi organisasi PSSI lolos tanpa ditentang Nurdin cs. Padahal pasal inilah yang paling sengit dibicarakan oleh dua wakil PSSI dalam tim perumus. Ternyata pasal ini menjadi bola panas hingga menjatuhkan rejim Nurdin.
Selamat bekerja, Jendral!
Sementara itu, untuk jabatan di luar olahraga, dari tingkat Menteri sampai Gubernur Lemhanas, ia pernah duduki. Ia pun sempat menjadi Calon Wakil Presiden bersama pasangannya, Hamzah Haz, dalam Pemilihan Umum 2004. Kemudian ia juga sempat mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat dalam Pilkada Jabar 2008.
Sementara itu, untuk jabatan di luar olahraga, dari tingkat Menteri sampai Gubernur Lemhanas, ia pernah duduki. Ia pun sempat menjadi Calon Wakil Presiden bersama pasangannya, Hamzah Haz, dalam Pemilihan Umum 2004. Kemudian ia juga sempat mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat dalam Pilkada Jabar 2008.
Namun, di balik pengalaman-pengalaman itu tetap saja ada kegundahan kepada kepemimpinan Agum ini. Hal ini muncul kalau kita membuka lembaran-lembaran sejarah yang terjadi dalam KSN yang berlangsung di Malang, 30-31 Maret 2010. Walau menelorkan pasal-pasal yang mengikat PSSI, seperti strukturisasi dan reformasi organisasi PSSI yang kahirnya menjadi bola panas, tapi kejadian di rapat pleno di sesi terakhir tetap membekas.
Pasalnya ketika itu, sebagai pimpinan sidang Agum menjadi bulan-bulanan pengurus PSSI di bawah ketuanya saat itu Nurdin Halid. Satu persatu pengurus PSSI memprotes hasil keputusan KSN yang telah dirumuskan oleh tim perumus yang juga diketuai oleh Agum. Akhirnya, satu keputusan menyangkut perlu dibentuknya Dewan Sepakbola Nasional dicabut.
Pasalnya ketika itu, sebagai pimpinan sidang Agum menjadi bulan-bulanan pengurus PSSI di bawah ketuanya saat itu Nurdin Halid. Satu persatu pengurus PSSI memprotes hasil keputusan KSN yang telah dirumuskan oleh tim perumus yang juga diketuai oleh Agum. Akhirnya, satu keputusan menyangkut perlu dibentuknya Dewan Sepakbola Nasional dicabut.
Misalnya, ketika disebutkan oleh Nurdin bahwa dua wakil PSSI di tim perumus dianggap ditekan dalam sidang-sidang untuk merumuskan kesimpulan KSN. Padahal kenyataannya, sidang-sidang berlangsung mulus, tanpa ada tekanan. Jawaban Agum dalam sidang pleno tidak didengar sama sekali oleh Nurdin cs.
KSN pun berkahir dengan beraneka ragam pendapat orang melihatnya. KSN dianggap berakhir dengan kemenangan berada di tangan PSSI, organisasi yang sebenarnya paling disorot dalam KSN untuk direformasi. Bahkan ada yang bilang KSN gagal mereformasi PSSI, KSN gagal mencapai tujuannya.
Pelajaran Berharga
Kelemahan kepemimpinan di KSN menjadi pelajaran berharga buat Agum. Agum memang sosok yang dikenal demokratis, mengayomi, tapi bukan berarti harus lemah saat dipojokkan oleh seseorang.
Kondisi sekarang rada mirip dengan KSN. Pihak-pihak yang terlibat nanti adalah para anggota PSSI yang ketika KSN dulu bersuara paling lantang menentangnya. Bedanya, para anggota PSSI sekarang ini sudah banyak berseberangan dengan Nurdin. Nurdin dan sekjen PSSI, Nugraha Besoes pun tidak bisa aktif lagi. Tapi, bukan berarti ketegasan Agum tidak diperlukan di sini. Justru faktor ini harus dikedepankan, mengingat adanya pengalaman di KSN dulu.
Posisi Agum sekarang ini memang menguntungkan, bisa berdiri di semua pihak. Dalam politik, ia pernah berada di era Soeharto, Gus Dur, Megawati, dan kini sebagai "suami Menteri" era SBY. Dalam sepakbola, dari arena lokal sampai nasional pernah ia urusi, bahkan semua olahraga pernah dikelolanya.
Namun, kondisi ini bisa juga merugikannya. Ia ingin semua orang senang, padahal bisa saja dalam memutuskan sesuatu ada pihak yang tidak setuju. Dalam era demokrasi hal itu wajar.
Dalam hal prestasi semasa dia menjabat, baik itu ketika jadi Ketua Umum PSSI dan Ketua Umum KONI, juga tidak ada yang ditoreh tinggi. Tim nasional tidak pernah juara SEA Games. Kontingen kita pun tidak pernah juara umum SEA Games, prestasi yang pernah diraih oleh Indonesia sebelum era Agum.
Lepas dari itu keputusan FIFA dan setujunya Menpora kepada Agum sebagai ketua Komite Normalisasi, menjadi harapan bagi insan sepakbola Indonesia untuk keluar dari kemelut PSSI yang melelahkan ini. Agum punya kelebihan yang paling menonjol, yaitu sebagai orang yang dikenal iklas dalam bekerja keras. Dan saya yakin ia menerima tugas yang maha berat ini karena iklas ingin membenahi sepakbola Indonesia. Orang iklas akan diberkati Tuhan.
Buktinya di KSN, walau ia agak lemah di sidang pleno sehingga butir keputusan Dewan Sepakbola Nasional yang diprotes keras Nurdin cs. dicabut tapi butir lain tentang restrukturisasi dan refromasi organisasi PSSI lolos tanpa ditentang Nurdin cs. Padahal pasal inilah yang paling sengit dibicarakan oleh dua wakil PSSI dalam tim perumus. Ternyata pasal ini menjadi bola panas hingga menjatuhkan rejim Nurdin.
Selamat bekerja, Jendral!
Tuesday, November 30, 2010
Sukses Asian Games, Sukses Relawan
Sebagai negara komunis yang masih besar, baik luas arealnya maupun penduduknya, kehadiran para relawan di Cina tidak mencerminkan negeri memiliki faham itu. Sukarelawan yang rata-rata berasal dari kalangan pelajar sekolah menengah atas dan mahasiswa seolah mewakili bahwa Cina bukanlah komunis sejati.
"Yang komunis itu penguasa dan pengurus partainya saja. Kami rakyat yang butuh makan, kerja sama dengan orang-orang lain yang bisa memenuhi kebutuhan hidup, sudah lupa dengan cara-cara komunis hidup" ujar Ahuk, tour leader yang membawa saya dan teman-teman lain berjalan-jalan keliling Guangzhou.
Lebih ekstrim lagi komentar Ayun, supir taksi. "Komunis di sini hanya lips service saja, hanya di omongan. Praktek sehari-hari, ya kapitalis," ujarnya.
Coba saja tengok kegiatan-kegiatan yang dilakukan para relawan di Asian Games XVI yang berlangsung 12-27 November itu. Mereka menyebar berbagi tugas. Tak heran kalau jumlah mereka yang diminta panitia sebanyak 500.000 orang langsung terpenuhi, bahkan dalam tahap pendaftaran melebihi jumlah tersebut. Mereka bertugas ada yang di luar arena dan di dalam arena.
Di stasiun kereta api umpamanya, mereka memberikan petunjuk jalan jika ada orang asing yang memerlukan jasa kereta tapi tidak mengerti untuk menggunakannya. Dari membeli karcis, jalur baris untuk masuk, hingga di dalam, terkadang mereka meminta kepada penumpang untuk melayani si tamu ini. Mereka melayani dengan ramah dan terlihat iklas tanpa rasa kesal sedikit pun.
Di jalan-jalan mudah sekali kita jumpai mereka, berdiri membawa perangkat Asian Games agar mudah orang mengenalinya. Nah di dalam stadion juga mereka tidak mengenal lelah dan keramahan. Ketika acara penutupan, adegan per adegan mereka peragakan agar penonton dapat melakukannya dan mendukung kemeriahaan acara. Mereka melakukan dengan senyum sumringah sepanjang acara.
Yang lebih berkesan adalah ketika kami pulang, dari menuruni tangga tribun, pintu stadion, sampai jalan-jalan menuju bis, mereka tak henti melambaikan tangan dengan mengucapkan terus menerus "Good Bye!"...
Luar biasa partisipasi mereka tanpa lelah dan dengan senyum khasnya. Mereka masih muda, seolah menggambarkan masa depan Cina adalah mereka. Mereka bekerja tanpa diberi honor, cukup dengan makan yang bon-bonnya akan ditukar kemudian.
Mau tahu jenis makan yang dilahapnya? Tidak macam-macam, misalnya makanan khas Amerika yang bertebaran di sana 24 jam, McD umpamanya. Cheri yang menjadi pemandu Menpora Andi Mallarangeng, makannya cukup dengan bubur. Jika kami makan bersama di restoran, mereka juga tidak aji mumpung tapi makan seadanya dan setelah itu menunggu di kursi lain sambil menanti tugas berikutnya.
Keramahan relawan juga menjadi pemandangan masyarakat di sana. Jika naik kereta kebetulan orang asing berdiri, tidak segan-segan anak-anak muda menawarkan tempat duduk. Mereka pun sering aktif bertanya kepada si asing. Salah satu tujuan mereka adalah memperdalam bahasa Inggrisnya.
Memang satu-satunya kekurangan yang ada dalam lingkungan Guangzhou itu adalah komunikasi dalam bahasa internasional. Sedikit sekali orang-orang di sana yang mengerti bahasa Inggris bahkan huruf latin. Keadaan ini mirip dengan Jepang tahun 1980-an, namun berkat kemauan kerasnya, kondisi Jepang telah berubah jauh.
Bukan tidak mungkin Cina begitu pula. Anak-anak muda di sana sudah mudah bergaul dengan orang asing dan menggunakan bahasa Inggris walau terpatah-patah. Keinginan keras itu menjadi ciri khas para relawan di sana, walau dengan perasaan yang tak karuan melihatnya.
Sukses Cina di gelanggang-gelanggang olagraga Asian Games XVI, sukses pula penyelenggaraannya dengan tulang punggung para relawan. Tak heran begitu hajatan penutupan usai, para tamu banyak yang menyalami mereka dengan mengucapkan terima kasih.
Bagaimana dengan relawan di Indonesia? Kita juga bangga dengan mereka yang bekerja di daerah-daerah bencana meletusnya Gunung Merapi, Mentawai, dan banyak lagi. Tapi, kalau di lingkungan olahraga, justru belum muncul semangat-semangat relawan bencana tersebut. Pembicaraan tentang relawan ini patut dikedepankan mengingat tahun depan kita akan menjadi tuan rumah SEA Games di Jakarta dan Palembang.
Kita punya contoh terakhir tentang relawan pada kejuaraan sepakbola se Asia tahun 2007. Di lapangan sukses dengan munculnya juara baru, negeri yang masih porak poranda, Irak. Tapi, di luar lapangan PSSI masih meninggalkan utang termasuk dengan honor para relawan itu.
Mungkinkah para relawan itu tanpa honor? Cukup makan saja? Masih menjadi pertanyaan besar, walau kita sudah diberikan contoh di depan mata oleh relawan-relawan bencana Merapi di mana mereka mampu menerobos tanpa pamrih daerah-daerah panas untuk menolong nyawa korban.
Bencana dan olahraga sangatlah berbeda. Di dalam bencana nilai kemanusiaannya begitu tinggi, sementara di olahraga yang muncul adalah hiburan terhadap prestasi si atlet. Di balik hiburan muncul dana yang cukup besar. Barangkali hal ini yang membuat tenaga sukarelawan tidak gratis dalam ikut menyukseskan event olahrga. Bisa saja ada dalih: "Demonstrasi saja dibayar. Jadi kenapa relawan SEA Games tidak dibayar?"
Contoh memang dimulai dari atas kepanitiaan. Setelah itu bisa ditiru oleh bawahan dan mungkin para relawan. Misalnya, mereka panitia juga tidak dibayar, atau kalau dibayar dengan harga yang tidak terlalu tinggi. Semua itu dilakukan dengan transparan, dan adil merata. Barangkali dengan sikap-sikap seperti ini, banyak yang ingin menjadi volunteer SEA Games 2011 nanti.
Satu tahun bukan waktu panjang. Mulailah berkampanye perlunya relawan dalam ikut menyukseskan peristiwa olahraga, dan Asian Games XVI Guangzhou telah memberikan contoh.
"Yang komunis itu penguasa dan pengurus partainya saja. Kami rakyat yang butuh makan, kerja sama dengan orang-orang lain yang bisa memenuhi kebutuhan hidup, sudah lupa dengan cara-cara komunis hidup" ujar Ahuk, tour leader yang membawa saya dan teman-teman lain berjalan-jalan keliling Guangzhou.
Lebih ekstrim lagi komentar Ayun, supir taksi. "Komunis di sini hanya lips service saja, hanya di omongan. Praktek sehari-hari, ya kapitalis," ujarnya.
Coba saja tengok kegiatan-kegiatan yang dilakukan para relawan di Asian Games XVI yang berlangsung 12-27 November itu. Mereka menyebar berbagi tugas. Tak heran kalau jumlah mereka yang diminta panitia sebanyak 500.000 orang langsung terpenuhi, bahkan dalam tahap pendaftaran melebihi jumlah tersebut. Mereka bertugas ada yang di luar arena dan di dalam arena.
Di stasiun kereta api umpamanya, mereka memberikan petunjuk jalan jika ada orang asing yang memerlukan jasa kereta tapi tidak mengerti untuk menggunakannya. Dari membeli karcis, jalur baris untuk masuk, hingga di dalam, terkadang mereka meminta kepada penumpang untuk melayani si tamu ini. Mereka melayani dengan ramah dan terlihat iklas tanpa rasa kesal sedikit pun.
Di jalan-jalan mudah sekali kita jumpai mereka, berdiri membawa perangkat Asian Games agar mudah orang mengenalinya. Nah di dalam stadion juga mereka tidak mengenal lelah dan keramahan. Ketika acara penutupan, adegan per adegan mereka peragakan agar penonton dapat melakukannya dan mendukung kemeriahaan acara. Mereka melakukan dengan senyum sumringah sepanjang acara.
Yang lebih berkesan adalah ketika kami pulang, dari menuruni tangga tribun, pintu stadion, sampai jalan-jalan menuju bis, mereka tak henti melambaikan tangan dengan mengucapkan terus menerus "Good Bye!"...
Luar biasa partisipasi mereka tanpa lelah dan dengan senyum khasnya. Mereka masih muda, seolah menggambarkan masa depan Cina adalah mereka. Mereka bekerja tanpa diberi honor, cukup dengan makan yang bon-bonnya akan ditukar kemudian.
Mau tahu jenis makan yang dilahapnya? Tidak macam-macam, misalnya makanan khas Amerika yang bertebaran di sana 24 jam, McD umpamanya. Cheri yang menjadi pemandu Menpora Andi Mallarangeng, makannya cukup dengan bubur. Jika kami makan bersama di restoran, mereka juga tidak aji mumpung tapi makan seadanya dan setelah itu menunggu di kursi lain sambil menanti tugas berikutnya.
Keramahan relawan juga menjadi pemandangan masyarakat di sana. Jika naik kereta kebetulan orang asing berdiri, tidak segan-segan anak-anak muda menawarkan tempat duduk. Mereka pun sering aktif bertanya kepada si asing. Salah satu tujuan mereka adalah memperdalam bahasa Inggrisnya.
Memang satu-satunya kekurangan yang ada dalam lingkungan Guangzhou itu adalah komunikasi dalam bahasa internasional. Sedikit sekali orang-orang di sana yang mengerti bahasa Inggris bahkan huruf latin. Keadaan ini mirip dengan Jepang tahun 1980-an, namun berkat kemauan kerasnya, kondisi Jepang telah berubah jauh.
Bukan tidak mungkin Cina begitu pula. Anak-anak muda di sana sudah mudah bergaul dengan orang asing dan menggunakan bahasa Inggris walau terpatah-patah. Keinginan keras itu menjadi ciri khas para relawan di sana, walau dengan perasaan yang tak karuan melihatnya.
Sukses Cina di gelanggang-gelanggang olagraga Asian Games XVI, sukses pula penyelenggaraannya dengan tulang punggung para relawan. Tak heran begitu hajatan penutupan usai, para tamu banyak yang menyalami mereka dengan mengucapkan terima kasih.
Bagaimana dengan relawan di Indonesia? Kita juga bangga dengan mereka yang bekerja di daerah-daerah bencana meletusnya Gunung Merapi, Mentawai, dan banyak lagi. Tapi, kalau di lingkungan olahraga, justru belum muncul semangat-semangat relawan bencana tersebut. Pembicaraan tentang relawan ini patut dikedepankan mengingat tahun depan kita akan menjadi tuan rumah SEA Games di Jakarta dan Palembang.
Kita punya contoh terakhir tentang relawan pada kejuaraan sepakbola se Asia tahun 2007. Di lapangan sukses dengan munculnya juara baru, negeri yang masih porak poranda, Irak. Tapi, di luar lapangan PSSI masih meninggalkan utang termasuk dengan honor para relawan itu.
Mungkinkah para relawan itu tanpa honor? Cukup makan saja? Masih menjadi pertanyaan besar, walau kita sudah diberikan contoh di depan mata oleh relawan-relawan bencana Merapi di mana mereka mampu menerobos tanpa pamrih daerah-daerah panas untuk menolong nyawa korban.
Bencana dan olahraga sangatlah berbeda. Di dalam bencana nilai kemanusiaannya begitu tinggi, sementara di olahraga yang muncul adalah hiburan terhadap prestasi si atlet. Di balik hiburan muncul dana yang cukup besar. Barangkali hal ini yang membuat tenaga sukarelawan tidak gratis dalam ikut menyukseskan event olahrga. Bisa saja ada dalih: "Demonstrasi saja dibayar. Jadi kenapa relawan SEA Games tidak dibayar?"
Contoh memang dimulai dari atas kepanitiaan. Setelah itu bisa ditiru oleh bawahan dan mungkin para relawan. Misalnya, mereka panitia juga tidak dibayar, atau kalau dibayar dengan harga yang tidak terlalu tinggi. Semua itu dilakukan dengan transparan, dan adil merata. Barangkali dengan sikap-sikap seperti ini, banyak yang ingin menjadi volunteer SEA Games 2011 nanti.
Satu tahun bukan waktu panjang. Mulailah berkampanye perlunya relawan dalam ikut menyukseskan peristiwa olahraga, dan Asian Games XVI Guangzhou telah memberikan contoh.
Thursday, January 21, 2010
PAL Gagal
Kalau saja dulu harapan Menegpora lama Adhyaksa Dault yang menginginkan agar Indonesia di SEA Games Laos 2009 diwakili oleh atlet-atlet yang tergabung dalam Program Atlet Andalan (PAL), maka posisi tiga besar gagal tercapai. Dari 43 medali emas yang diperoleh Indonesia, hanya 27 yang dicapai oleh atlet-atlet PAL. Artinya, dengan 27 emas kita berada di posisi ke-8 atau di bawah Laos yang menyabet 33 emas.
Ketika itu harapan besar kepada PAL diagungkan oleh Adhyaksa sebagai proyek masa depan olahraga Indonesia. Peran KONI yang mengedepankan sistem Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) tidak diprioritaskan. Bahkan suara-suara menyingkirkan KONI begitu besar. Dasarnya, kan yang berperan ke arena Olimpiade adalah KOI (Komite Olimpiade Indonesia). PAL yang menyediakan atlet, sementara KOI secara administrasi yang mengirim kontingen. Kenapa harus ada KONI?
Target pun dilambungkan PAL, tiga besar dengan 49 medali emas. Untunglah usaha KONI dan beberapa pengamat senior yang masih mengehendaki pembinaan prestasi tetap di bawah KONI Pusat tidak kenal lelah. Polemik yang berkembang ke arah pengkotakan pun terjadi. Pengkotakan bukan hanya pada para atlet maupun ofisial, bahkan juga terjadi di kalangan wartawan. Ada wartawan PAL, ada pula wartawan KONI.
Di saat ”konflik” pembinaan muncul dan di tengah penungguan Adhyaksa sebagai Menegpora lagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono justru memilih Andi Alifian Mallarangeng sebagai Menegpora baru. Tokoh olahraga nomor satu ini memang sama-sama berkumis, tapi kebijakan berbeda.
Langkah pertama mantan juru bicara Presiden itu tepat sekali, mengembalikan peran pembinaan olahraga di Tanah Air di tangan KONI. Maka mau tidak mau peran organisasi pimpinan Rita Subowo itu yang memegang kendali pengiriman atlet ke SEA Games XXV di Laos. Pemerintah sendiri berdiri di belakang, sebagai pengawas yang tentu menuntut akuntabilitas KONI. Tidak lagi seperti era Adhyaksa, ya wasit ya juga pemain.
Sedari awal, tampak Rita tidak ingin konflik. Pelatnas Terpadu yang tetap berjalan justru membawa konsep-konsep segar dengan mengajak pemerintah daerah maupun PB-PB untuk membantu pengiriman atlet ke SEA Games. Jadilah kontingen Indonesia ke Laos itu bermaterikan atlet-atlet PAL dan Pelatnas dengan komando berada di tangan KONI/KOI. Hasilnya, walau masih kurang memuaskan tapi target tiga besar tercapai.
Hasil ini memang berkat semua pihak, tapi kalau dirinci dari target masing-masing kubu, justru PAL yang banyak gagalnya. Dari 49 emas yang diharapkan, cuma 27 emas yang tercapai. Sementara itu, KONI menargetkan 50 emas diraih oleh kontingen Indonesia. Bisa dibayangkan kalau keinginan awal dilakukan tanpa melibatkan Pelatnas Terpadu, kontingen kita yang bermaterikan seluruh atlet PAL akan berada di bawah Laos yang menduduki posisi ke-7.
Untunglah hal itu tidak terjadi, namun eforia dua kubu terjadi juga di Laos. Kontingen Indonesia mempunyai dua posko. Belum lagi dalam pemberitaan-pemberitaan, keberhasilan satu atlet PAL umpamanya dibesar-besarkan asal prosesnya. Padahal perlu diingat keberhasilan Suryo Agung Wibowo misalnya bukan hanya karena binaan PAL sekarang ini, tapi peran PASI dan klub asalnya sangat besar. Dan itu terjadi jauh sebelum PAL berdiri.
Berdayakan PB-PB
PAL atau apapun namanya tetap saja merupakan program-program instan yang mempunyai batas waktu kerja. Sumber pembinaan yang stabil tetap berada di induk-induk organisasi olahraga (PB/PP). Maka, ketimbang mengambil peran PB ke PAL, kenapa tidak PB/PP saja diberdayakan secara maksimal?
Di setiap PB/PP ada bidang pembinaan prestasi yang biasanya ditempati oleh orang-orang yang berkompeten. Isi saja ilmu para pengurus bidang ini dengan sport science, sport intelegent, dan banyak ilmu lagi dengan tentu pengawasan yang ketat. Siapa yang mengawasi, ya KONI yang merupakan induk dari PB/PP. Output pengawasan KONI ini akan diawasi pula secara ketat oleh kantor Menegpora.
Hirarki organisasi semacam ini sudah lama ada dan sangat sederhana untuk dilakukan. Kenapa harus dibentuk pula PAL yang awalnya diharapkan berdasarkan surat keputusan Presiden, layaknya KONI? Struktur organisasi olahraga nasional menjadi semakin gemuk, padahal dana yang tersedia di pemerintah sangat kurus.
Kalau oknum-oknum KONI yang kurang becus bekerjanya, bukan organisasinya dihapus tapi perbaiki sumber daya manusianya. Banyak pengurus di PAL juga jadi pengurus di PB. Ini pun mesti dipertanyakan. Kenapa untuk PAL mau bekerja keras sedangkan untuk PB setengah-setengah?
Kita bisa lihat cabang-cabang yang berprestasi di SEA Games lalu merupakan cermin kesuksesan kinerja di PB, seperti PASI (atletik), PABBSI (Angkat Besi), Perpani (panahan), dan beberapa lagi. Sementara PB yang kurang bagus terlihat pula, seperti PSSI (sepakbola), PTMSI (tenis meja), dan beberapa lagi.
Bagus kinerja di PB maksudnya adalah dengan banyaknya kompetisi dengan tidak meninggalkan patokan usia maupun uji coba bagi para atlet. Sepakbola, kompetisinya memang bagus tapi hanya dari segi kuantitas. Kualitasnya remuk, juga pembinaan usia dininya kurang. Dana triliunan rupiah yang tersedot tidak terfokus untuk pembinaan tapi lebih banyak dihabiskan untuk yang lain. Tenis meja lebih parah lagi, kompetisi kurang, uji coba atlet tidak ada, pembinaan usia dini melorot. Padahal dana di cabang ini tidak kurang.
Memaksimalkan peran PB/PP juga artinya dengan meningkatkan pendanaan untuk PB/PP. Selama ini memang sudah ada dana pembinaan ke mereka, tapi masih sangat kecil kalau berharap peran mereka lebih besar lagi. Caranya adalah dengan memangkas dana-dana pembinaan untuk KONI yang perannya sudah diambil oleh PB/PP. Pelatnas atau PAL atau apalah namanya sifatnya hanya untuk kordinasi saja guna menghadapi pesta-pesta olahraga sebelum didaftarkan ke KOI, bukan merupakan wadah program pembinaan prestasi, apalagi menjadi program andalan.
Ketika itu harapan besar kepada PAL diagungkan oleh Adhyaksa sebagai proyek masa depan olahraga Indonesia. Peran KONI yang mengedepankan sistem Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) tidak diprioritaskan. Bahkan suara-suara menyingkirkan KONI begitu besar. Dasarnya, kan yang berperan ke arena Olimpiade adalah KOI (Komite Olimpiade Indonesia). PAL yang menyediakan atlet, sementara KOI secara administrasi yang mengirim kontingen. Kenapa harus ada KONI?
Target pun dilambungkan PAL, tiga besar dengan 49 medali emas. Untunglah usaha KONI dan beberapa pengamat senior yang masih mengehendaki pembinaan prestasi tetap di bawah KONI Pusat tidak kenal lelah. Polemik yang berkembang ke arah pengkotakan pun terjadi. Pengkotakan bukan hanya pada para atlet maupun ofisial, bahkan juga terjadi di kalangan wartawan. Ada wartawan PAL, ada pula wartawan KONI.
Di saat ”konflik” pembinaan muncul dan di tengah penungguan Adhyaksa sebagai Menegpora lagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono justru memilih Andi Alifian Mallarangeng sebagai Menegpora baru. Tokoh olahraga nomor satu ini memang sama-sama berkumis, tapi kebijakan berbeda.
Langkah pertama mantan juru bicara Presiden itu tepat sekali, mengembalikan peran pembinaan olahraga di Tanah Air di tangan KONI. Maka mau tidak mau peran organisasi pimpinan Rita Subowo itu yang memegang kendali pengiriman atlet ke SEA Games XXV di Laos. Pemerintah sendiri berdiri di belakang, sebagai pengawas yang tentu menuntut akuntabilitas KONI. Tidak lagi seperti era Adhyaksa, ya wasit ya juga pemain.
Sedari awal, tampak Rita tidak ingin konflik. Pelatnas Terpadu yang tetap berjalan justru membawa konsep-konsep segar dengan mengajak pemerintah daerah maupun PB-PB untuk membantu pengiriman atlet ke SEA Games. Jadilah kontingen Indonesia ke Laos itu bermaterikan atlet-atlet PAL dan Pelatnas dengan komando berada di tangan KONI/KOI. Hasilnya, walau masih kurang memuaskan tapi target tiga besar tercapai.
Hasil ini memang berkat semua pihak, tapi kalau dirinci dari target masing-masing kubu, justru PAL yang banyak gagalnya. Dari 49 emas yang diharapkan, cuma 27 emas yang tercapai. Sementara itu, KONI menargetkan 50 emas diraih oleh kontingen Indonesia. Bisa dibayangkan kalau keinginan awal dilakukan tanpa melibatkan Pelatnas Terpadu, kontingen kita yang bermaterikan seluruh atlet PAL akan berada di bawah Laos yang menduduki posisi ke-7.
Untunglah hal itu tidak terjadi, namun eforia dua kubu terjadi juga di Laos. Kontingen Indonesia mempunyai dua posko. Belum lagi dalam pemberitaan-pemberitaan, keberhasilan satu atlet PAL umpamanya dibesar-besarkan asal prosesnya. Padahal perlu diingat keberhasilan Suryo Agung Wibowo misalnya bukan hanya karena binaan PAL sekarang ini, tapi peran PASI dan klub asalnya sangat besar. Dan itu terjadi jauh sebelum PAL berdiri.
Berdayakan PB-PB
PAL atau apapun namanya tetap saja merupakan program-program instan yang mempunyai batas waktu kerja. Sumber pembinaan yang stabil tetap berada di induk-induk organisasi olahraga (PB/PP). Maka, ketimbang mengambil peran PB ke PAL, kenapa tidak PB/PP saja diberdayakan secara maksimal?
Di setiap PB/PP ada bidang pembinaan prestasi yang biasanya ditempati oleh orang-orang yang berkompeten. Isi saja ilmu para pengurus bidang ini dengan sport science, sport intelegent, dan banyak ilmu lagi dengan tentu pengawasan yang ketat. Siapa yang mengawasi, ya KONI yang merupakan induk dari PB/PP. Output pengawasan KONI ini akan diawasi pula secara ketat oleh kantor Menegpora.
Hirarki organisasi semacam ini sudah lama ada dan sangat sederhana untuk dilakukan. Kenapa harus dibentuk pula PAL yang awalnya diharapkan berdasarkan surat keputusan Presiden, layaknya KONI? Struktur organisasi olahraga nasional menjadi semakin gemuk, padahal dana yang tersedia di pemerintah sangat kurus.
Kalau oknum-oknum KONI yang kurang becus bekerjanya, bukan organisasinya dihapus tapi perbaiki sumber daya manusianya. Banyak pengurus di PAL juga jadi pengurus di PB. Ini pun mesti dipertanyakan. Kenapa untuk PAL mau bekerja keras sedangkan untuk PB setengah-setengah?
Kita bisa lihat cabang-cabang yang berprestasi di SEA Games lalu merupakan cermin kesuksesan kinerja di PB, seperti PASI (atletik), PABBSI (Angkat Besi), Perpani (panahan), dan beberapa lagi. Sementara PB yang kurang bagus terlihat pula, seperti PSSI (sepakbola), PTMSI (tenis meja), dan beberapa lagi.
Bagus kinerja di PB maksudnya adalah dengan banyaknya kompetisi dengan tidak meninggalkan patokan usia maupun uji coba bagi para atlet. Sepakbola, kompetisinya memang bagus tapi hanya dari segi kuantitas. Kualitasnya remuk, juga pembinaan usia dininya kurang. Dana triliunan rupiah yang tersedot tidak terfokus untuk pembinaan tapi lebih banyak dihabiskan untuk yang lain. Tenis meja lebih parah lagi, kompetisi kurang, uji coba atlet tidak ada, pembinaan usia dini melorot. Padahal dana di cabang ini tidak kurang.
Memaksimalkan peran PB/PP juga artinya dengan meningkatkan pendanaan untuk PB/PP. Selama ini memang sudah ada dana pembinaan ke mereka, tapi masih sangat kecil kalau berharap peran mereka lebih besar lagi. Caranya adalah dengan memangkas dana-dana pembinaan untuk KONI yang perannya sudah diambil oleh PB/PP. Pelatnas atau PAL atau apalah namanya sifatnya hanya untuk kordinasi saja guna menghadapi pesta-pesta olahraga sebelum didaftarkan ke KOI, bukan merupakan wadah program pembinaan prestasi, apalagi menjadi program andalan.
Tuesday, December 8, 2009
PSSI Pusing Siapkan Tim untuk SEA Games 2011
Setelah gagal di SEA Games 2009, PSSI berbicara soal SEA Games 2011. Berikut dari Kompas.com:
Hasil yang kurang memuaskan di ajang SEA Games XXV Laos membuat induk ogranisasi sepak bola Tanah Air, PSSI, harus memutar otak agar bisa menciptakan sebuah tim yang perkasa di ajang SEA Games XXVI mendatang di Indonesia. Sekjen PSSI Nugraha Besoes mengatakan, pihaknya dibuat pusing oleh prestasi sepak bola Indonesia di arena SEA Games Laos ini.
Pasalnya, kekalahan 0-2 dari tuan rumah Laos diakuinya merupakan sejarah buruk baru bagi perkembangan sepak bola di Tanah Air. Hasil ini pula yang membuat posisi timnas sangat kritis, karena terancam tersingkir di babak penyisihan Grup B.
"Kekalahan dari Laos merupakan sebuah tamparan yang menyakitkan bagi kita semua pecinta sepak bola di Tanah Air," ungkapnya ditemui di Sekretariat PSSI, Selasa (8/12/09).
Menurutnya, tidak ada sejarahnya Laos bisa mengalahkan kesebelasan Indonesia baik itu tingkat kelompok umur, yunior maupun senior. Tetapi di ajang SEA Games ini, Laos menciptakan sejarah sepak bola dengan mengalahkan Indonesia, tambahnya.
Melihat hasil tersebut, Nugraha pesimistis kesebelasan Indonesia bisa melenggang ke babak semifinal di Laos tersebut. Menurutnya susah mengalahkan Myanmar, sementara itu Singapura dan Laos pun akan bermain aman untuk tidak ngotot.
"Jika Singapura dan Laos bermain aman artinya bermain imbang, pupus sudah peluang Indonesia. Inilah yang akan menjadi pekerjaan rumah kita yang sangat berat, karena harus menyiapkan sebuah tim untuk di SEA Games mendatang di mana Indonesia menjadi tuan rumah," paparnya.
Pada SEA Games 2011, Indonesia akan menjadi tuan rumah. Jika prestasi sepak bola seperti saat di SEA Games Laos ini, maka hancur sudah kepercayaan masyarakat terhadap pengurus PSSI. Menurut Nugraha hal ini tidak perlu terjadi jika PSSI melakukan persiapan dengan matang.
"Tidak cukup empat bula menyiapkan sebuah tim untuk tampil di SEA Games, minimal satu tahun untuk menyiapkan sebuah tim di SEA Games Indonesia nanti," jelasnya.
Menurut Nugraha, inilah yang akan membuat PSSI pusing untuk menyiapkan sebuah tim yang bisa menjadi tim finalis pada SEA Games 2011. Karena itu, PSSI akan berjuang semaksimal mungkin untuk menciptakan sebuah tim dengan prestasi yang membanggakan di ajang SEA Games, apalagi saat itu era kepengurusan yang sekarang akan berakhir.
"Tentunya kami ingin meninggalkan kesan dengan mempersembahkan sebuah prestasi," urainya.
Komentar
Siapa bilang kita tak pernah kalah dari Laos sebelumnya? Tercatat dua kali timnas kalah dari negeri kecil itu, meski memang di tingkat junior. Artinya, kita sudah lama kritis. Hmm, rekayasa situasi kritis!
Hasil yang kurang memuaskan di ajang SEA Games XXV Laos membuat induk ogranisasi sepak bola Tanah Air, PSSI, harus memutar otak agar bisa menciptakan sebuah tim yang perkasa di ajang SEA Games XXVI mendatang di Indonesia. Sekjen PSSI Nugraha Besoes mengatakan, pihaknya dibuat pusing oleh prestasi sepak bola Indonesia di arena SEA Games Laos ini.
Pasalnya, kekalahan 0-2 dari tuan rumah Laos diakuinya merupakan sejarah buruk baru bagi perkembangan sepak bola di Tanah Air. Hasil ini pula yang membuat posisi timnas sangat kritis, karena terancam tersingkir di babak penyisihan Grup B.
"Kekalahan dari Laos merupakan sebuah tamparan yang menyakitkan bagi kita semua pecinta sepak bola di Tanah Air," ungkapnya ditemui di Sekretariat PSSI, Selasa (8/12/09).
Menurutnya, tidak ada sejarahnya Laos bisa mengalahkan kesebelasan Indonesia baik itu tingkat kelompok umur, yunior maupun senior. Tetapi di ajang SEA Games ini, Laos menciptakan sejarah sepak bola dengan mengalahkan Indonesia, tambahnya.
Melihat hasil tersebut, Nugraha pesimistis kesebelasan Indonesia bisa melenggang ke babak semifinal di Laos tersebut. Menurutnya susah mengalahkan Myanmar, sementara itu Singapura dan Laos pun akan bermain aman untuk tidak ngotot.
"Jika Singapura dan Laos bermain aman artinya bermain imbang, pupus sudah peluang Indonesia. Inilah yang akan menjadi pekerjaan rumah kita yang sangat berat, karena harus menyiapkan sebuah tim untuk di SEA Games mendatang di mana Indonesia menjadi tuan rumah," paparnya.
Pada SEA Games 2011, Indonesia akan menjadi tuan rumah. Jika prestasi sepak bola seperti saat di SEA Games Laos ini, maka hancur sudah kepercayaan masyarakat terhadap pengurus PSSI. Menurut Nugraha hal ini tidak perlu terjadi jika PSSI melakukan persiapan dengan matang.
"Tidak cukup empat bula menyiapkan sebuah tim untuk tampil di SEA Games, minimal satu tahun untuk menyiapkan sebuah tim di SEA Games Indonesia nanti," jelasnya.
Menurut Nugraha, inilah yang akan membuat PSSI pusing untuk menyiapkan sebuah tim yang bisa menjadi tim finalis pada SEA Games 2011. Karena itu, PSSI akan berjuang semaksimal mungkin untuk menciptakan sebuah tim dengan prestasi yang membanggakan di ajang SEA Games, apalagi saat itu era kepengurusan yang sekarang akan berakhir.
"Tentunya kami ingin meninggalkan kesan dengan mempersembahkan sebuah prestasi," urainya.
Komentar
Siapa bilang kita tak pernah kalah dari Laos sebelumnya? Tercatat dua kali timnas kalah dari negeri kecil itu, meski memang di tingkat junior. Artinya, kita sudah lama kritis. Hmm, rekayasa situasi kritis!
Saturday, December 5, 2009
Indonesia Tahan Singapura 2-2
Berita dari SEA Games Laos dikutip dari Kompas.com:
Timnas sepak bola U-23 Indonesia berbagi angka setelah bermain imbang 2-2 melawan Singapura di laga perdana grup B SEA Games XXV 2009 Laos, Sabtu (5/12).
Bermain di Stadion Utama National Sport Complex, Vientiane, Laos, Indonesia bermain kurang tenang khususnya di lini tengah dan belakang. Bahkan kiper Franky Irawan juga terlihat kurang tenang setiap mengamankan gawangnya.
Di menit keenam, striker Singapura Muhammad Safuwan menyambar bola tinggi dengan tandukan yang tidak mampu dijangkau Franky.
Singapura terus menekan pertahanan Indonesia. Dari satu tendangan bebas dari luar kotak penalti, Mohammad Saiful bin Esah Nain kembali menjinakkan Franky di menit ke-23.
Tendangan "pisang" kaki kiri Saiful sukses membidik tiang jauh gawang Indonesia, saat Franky sudah mati langkah untuk menggapai bola tersebut. 2-0 untuk Singapura.
Indonesia mulai bangkit setelah gol Stevie Bonsapia yang mendapat umpan silang dari Sultan Samma yang menusuk dari sayap kiri dengan terlebih dulu melewati dua pemain belakang Singapura di menit 42. Gol itu menjadi pelecut permainan Indonesia, meski sampai jeda kedudukan tidak berubah.
Pada babak kedua, Indonesia tampil dominan. Beberapa kali permainan cepat Boaz Salossa dan Engel Bert membuat kalang kabut pertahanan Singapura.
Indonesia akhirnya mampu menyamakan kedudukan melalui sundulan Rendy pada menit ke-64, memaksimalkan tendangan sudut yang dilakukan Tony Sucipto.
Manajer Indonesia Andi Darussalam Tabusalla dikutip dari Humas PSSI menyatakan, seharusnya Indonesia bisa memenangkan pertandingan, bila pada babak kedua, para pemain tampil lebih tenang.
"Ada sekitar empat peluang emas yang gagal menjadi gol. Padahal di babak kedua, Singapura sudah kehabisan tenaga. Sayang, anak-anak kurang tenang. Selain itu, mereka kurang berani bermain cepat dari kaki ke kaki," katanya.
Indonesia selanjutnya akan menghadapi Laos pada Senin (7/12), di Stadion Chao Anu-vong. Sebelumnya di tempat yang sama, Myanmar menghadapi Singapura.
Sementara itu pada pertandingan lain, tuan rumah Laos juga hanya bisa meraih satu poin. Menghadapi Myanmar, Laos yang mendapat dukungan penuh dari suporternya, bermain imbang 1-1.
Hasil ini membuat Indonesia dan Singapura untuk sementara di puncak klasemen Grup B, sedangkan Laos dan Myanmar membuntuti.
Komentar
Lawan Laos, meskipun berpredikat sebagai tuan rumah tidak ada cerita kalau tidak menang. Akur ya....
Timnas sepak bola U-23 Indonesia berbagi angka setelah bermain imbang 2-2 melawan Singapura di laga perdana grup B SEA Games XXV 2009 Laos, Sabtu (5/12).
Bermain di Stadion Utama National Sport Complex, Vientiane, Laos, Indonesia bermain kurang tenang khususnya di lini tengah dan belakang. Bahkan kiper Franky Irawan juga terlihat kurang tenang setiap mengamankan gawangnya.
Di menit keenam, striker Singapura Muhammad Safuwan menyambar bola tinggi dengan tandukan yang tidak mampu dijangkau Franky.
Singapura terus menekan pertahanan Indonesia. Dari satu tendangan bebas dari luar kotak penalti, Mohammad Saiful bin Esah Nain kembali menjinakkan Franky di menit ke-23.
Tendangan "pisang" kaki kiri Saiful sukses membidik tiang jauh gawang Indonesia, saat Franky sudah mati langkah untuk menggapai bola tersebut. 2-0 untuk Singapura.
Indonesia mulai bangkit setelah gol Stevie Bonsapia yang mendapat umpan silang dari Sultan Samma yang menusuk dari sayap kiri dengan terlebih dulu melewati dua pemain belakang Singapura di menit 42. Gol itu menjadi pelecut permainan Indonesia, meski sampai jeda kedudukan tidak berubah.
Pada babak kedua, Indonesia tampil dominan. Beberapa kali permainan cepat Boaz Salossa dan Engel Bert membuat kalang kabut pertahanan Singapura.
Indonesia akhirnya mampu menyamakan kedudukan melalui sundulan Rendy pada menit ke-64, memaksimalkan tendangan sudut yang dilakukan Tony Sucipto.
Manajer Indonesia Andi Darussalam Tabusalla dikutip dari Humas PSSI menyatakan, seharusnya Indonesia bisa memenangkan pertandingan, bila pada babak kedua, para pemain tampil lebih tenang.
"Ada sekitar empat peluang emas yang gagal menjadi gol. Padahal di babak kedua, Singapura sudah kehabisan tenaga. Sayang, anak-anak kurang tenang. Selain itu, mereka kurang berani bermain cepat dari kaki ke kaki," katanya.
Indonesia selanjutnya akan menghadapi Laos pada Senin (7/12), di Stadion Chao Anu-vong. Sebelumnya di tempat yang sama, Myanmar menghadapi Singapura.
Sementara itu pada pertandingan lain, tuan rumah Laos juga hanya bisa meraih satu poin. Menghadapi Myanmar, Laos yang mendapat dukungan penuh dari suporternya, bermain imbang 1-1.
Hasil ini membuat Indonesia dan Singapura untuk sementara di puncak klasemen Grup B, sedangkan Laos dan Myanmar membuntuti.
Komentar
Lawan Laos, meskipun berpredikat sebagai tuan rumah tidak ada cerita kalau tidak menang. Akur ya....
Thursday, December 3, 2009
DKI Usulkan Pelaksanaan SEA Games 2011 pada Juni-Juli
SEA Games Laos belum dibuka secara resmi tapi pembicaraan SEA Games berikutnya sudah ramai karena Indonesia menjadi tuan rumah. Salah satu beritanya di Kompas.com:
DKI Jakarta, sebagai salah satu tuan rumah SEA Games 2011, mengusulkan agar event ini diselenggarakan pada bulan Juni-Juli.
"Kami sudah mengusulkan ke KONI Pusat untuk pelaksanaan SEA Games 2011 pada bulan Juni-Juli. Kita tinggal menunggu ketetapannya saja dari KONI setelah usulan itu disampaikan," kata Ketua Harian KONI DKI Jakarta Eddi Widodo di Jakarta, Kamis (3/12).
Ia mengatakan, usulan ini dengan mempertimbangkan cuaca yang baik di bulan Juni-Juli itu dibandingkan dilaksanakan pada Desember, seperti pada SEA Games XXV di Laos yang akan berlangsung 2 Desember nanti.
"Pertimbangan lainnya pada saat itu bersamaan dengan HUT DKI Jakarta dan hari libur sekolah," ungkapnya seraya menambahkan, DKI mengusulkan pada 22 Juni hingga awal Juli.
DKI akan menjadi tuan rumah 12 cabang olahraga SEA Games 2011. Tidak tertutup ditambah dua cabang lagi.
"Kemungkinan jumlah cabang olahraga yang digelar di DKI ditambah dengan wushu dan karate. Pengurus besar kedua cabang ini meminta untuk dilaksanakan di DKI Jakarta. Kami siap menggelarnya," katanya.
Sementara 12 cabang olahraga yang dipersiapkan DKI adalah anggar, balap sepeda, bola basket, bulu tangkis, futsal, judo, kempo, layar, pencak silat, tenis, sepak bola, dan tenis meja.
Selain DKI, Provinsi Sumatera Selatan, Jawa Tengah, dan Jawa Barat merupakan daerah yang akan melaksanakan multievent ini.
Komentar
Sebelum 2011, kita fokuskan dulu perhatian ke Laos sampai pertengahan Desember ini.
DKI Jakarta, sebagai salah satu tuan rumah SEA Games 2011, mengusulkan agar event ini diselenggarakan pada bulan Juni-Juli.
"Kami sudah mengusulkan ke KONI Pusat untuk pelaksanaan SEA Games 2011 pada bulan Juni-Juli. Kita tinggal menunggu ketetapannya saja dari KONI setelah usulan itu disampaikan," kata Ketua Harian KONI DKI Jakarta Eddi Widodo di Jakarta, Kamis (3/12).
Ia mengatakan, usulan ini dengan mempertimbangkan cuaca yang baik di bulan Juni-Juli itu dibandingkan dilaksanakan pada Desember, seperti pada SEA Games XXV di Laos yang akan berlangsung 2 Desember nanti.
"Pertimbangan lainnya pada saat itu bersamaan dengan HUT DKI Jakarta dan hari libur sekolah," ungkapnya seraya menambahkan, DKI mengusulkan pada 22 Juni hingga awal Juli.
DKI akan menjadi tuan rumah 12 cabang olahraga SEA Games 2011. Tidak tertutup ditambah dua cabang lagi.
"Kemungkinan jumlah cabang olahraga yang digelar di DKI ditambah dengan wushu dan karate. Pengurus besar kedua cabang ini meminta untuk dilaksanakan di DKI Jakarta. Kami siap menggelarnya," katanya.
Sementara 12 cabang olahraga yang dipersiapkan DKI adalah anggar, balap sepeda, bola basket, bulu tangkis, futsal, judo, kempo, layar, pencak silat, tenis, sepak bola, dan tenis meja.
Selain DKI, Provinsi Sumatera Selatan, Jawa Tengah, dan Jawa Barat merupakan daerah yang akan melaksanakan multievent ini.
Komentar
Sebelum 2011, kita fokuskan dulu perhatian ke Laos sampai pertengahan Desember ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)

