Berita dari kompas.com:
ADA pelajaran penting di balik kematian kiper Jerman, Robert Enke, beberapa waktu lalu. Popularitas ternyata tak menjamin kebahagiaan. Berbagai persoalan hidup terus saja menghajarnya. Karena tak kuat menanggung beban, dia memilih bunuh diri.
Enke bukan satu-satunya tokoh dari kalangan sepak bola yang kehilangan nyawa dengan tragis. Masih banyak nama-nama lain yang melakukan tindakan konyol tersebut. Berikut pelaku-pelakunya.
Justin Fashanu
Pada 1998, Justin Fashanu tewas gantung dri. Mantan pemain Manchester City era 1990-an itu nekat melakukannya karena dia tidak kuat dengan anggapan negatif terhadapnya.
Sebelum tewas, Fashanu dituduh mencabuli anak berumur 17 tahun. Itu dilakukannya usai menenggak minuman keras di apartemennnya. Tuduhan itu makin kuat ketika banyak bermunculan pemberitaan soal Fashanu yang bergabung di komunitas homoseksual.
Sergio Lopez Segu
Sergio Lopez Segu tewas secara tragis. Pada 4 November 2006, dia menabrakkan diri ke sebuah kereta api yang berjalan cepat. Nyawanya melayang seketika. Dia tewas di umur 39 tahun.
Mantan gelandang Barcelona era 1990-an tersebut nekat melakukannya karena tak kuat menahan cobaan hidupnya. Pemain yang sukses mengantarkan Barcelona menjuarai Piala Winners 1989 itu memang pensiun dini karena cedera lutut. Ini membuatnya depresi berat. Ditambah lagi pernikahannya gagal.
Paul Vaessen
Agustus 2001, sepak bola Inggris dihebohkan dengan tewasnya Paul Vaessen, Pemain Arsenal itu bunuh diri di bak mandi dengan cara mengonsumsi heroin hingga over dosis. Sebelumnya dia sempat ditangani oleh psikiatris, tapi gagal.
Perjalanan kaier pencetak gol kemenangan Arsenal ke gawang Juventus pada semifinal Piala Winners 1980 itu memang menyedihkan. Di musim pertamanya, dia memesona. Namun, di musim-musim berikutnya dia rentan cedera.
Vaessen lalu pensiun. Beberaap pekerjaan sempat digeluti. Mulai dari tukang pos hingga buruh bangunan. Sepertinya Vaessen tak bisa menerima kenyataan dan stres. Karena frustrasi, narkoba lalu dijadikan pelarian hingga mengakhiri hidupnya.
Asgotino Di Bartolomei
Kematian legenda AS Roma, Agostino di Bartolomei, juga menyedihkan. Pada 30 Mei 1994, dia menembak dirinya tepat di jantung. Diduga, Bartolomei bunuh diri karena depresi.
Dugaan penyebab depresi bermacam-macam. Diperkirakan dia tak kuat dengan bebam ekonomi yang mengimpit. Ada juga yang menduga dia tidak siap ketika pensiun dari sepak bola.
Kehidupannya berakhir mengenaskan. Selama aktif sebagai pemain, sepak terjang Bartolomei memang meyakinkan. Dia punya andil besar mengantarkan Roma merebut scudetto pada 1983. Tapi, setelah itu kariernya meredup dan sederet masalah pribadi terus-terusan mengganggunya.
Sandor Kocsis
Sandor Kocsis adalah striker hebat Barcelona di kurun waktu 1958-1965. Pada 22 Juli 1979, saat berumur 49 tahun, dia meninggal dunia. Sampai saat ini, banyak yang percaya dia tewas karena bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri dari lantai empat di sebuah rumah sakit. Namun, ada juga yang memberitakan murni kecelakaan.
Menjelang akhir hayatnya, kesehatan Kocsis memang menurun drastis. Striker yang punya julukan Golden Head ini menderita kanker perut dab leukimia. Diduga, karena sulit menyembuhkan dua penyakit itu, Kocsis stres lalu bunuh diri.
Juan Gamper
Juan Gamper adalah aktor penting di balik lahirnya Barcelona. Pria kelahiran Swiss ini juga presiden pertama klub asal Spanyol tersebut. Selama menjadi presiden, Barcelona dibawanya meraih beberapa gelar, di antaranya 11 Championnat de Catalunya dan enam Copa del Rey.
Gamper sangat menyokong nasionalisme Catalan. Akibatnya, pria yang juga pendiri klub asal Swiss, FC Zurich ini pun diusir keuar dari Spanyol. Karena tak kuat dengan perlakuan tersebut, Gamper bunuh diri.
Matthias Sindelar
Matthias Sindelar adalah salah satu pemain besar yang pernah dilahirkan Austria di era 1930-an. Tapi perjalanan hidupnya tragis. Kematiannya masih kontroversial. Ada yang bilang bunuh diri, namun ada juga yang menyebut dibunuh secara "halus".
Pada 23 Januari 1939, Matthias Sindelar bersama pacarnya, Camilla Castagnola ditemukan tewas di sebuah apartemen di Wina, Austria. Kematiannya diduga akibat keracunan kabon monoksida dari pemanas yang bocor. Dugaan lain, rezim Nazi terlibat karena saat itu Sindelar menolak bermain mewakili Jerman.
Komentar
Di Indonesia belum terdata atau tidak ada ya? Tapi, orang yang bunuh diri belakangan ini bertambah banyak. Apalagi yang melakukannya anak-anak, meningkat.
Monday, November 23, 2009
Jawa Timur Siap Juara lagi
Kompetisi sepakbola di Tanah Air tambah semarak dengan digelarnya kembali Liga Medco. Berikut berita dari Kompas.com:
Jawa Timur siap menjadi tim pertama yang menjadi juara Liga Medco dua tahun berturut-turut. Seperti diketahui, setiap tahunnya, Liga Medco selalu memunculkan juara baru. Jawa Timur menjadi juara tahun 2008, menyusul Maluku dan DKI Jakarta yang menjadi juara di tahun 2006 dan 2007.
Jatim memang menjadi salah satu kandidat kuat juara karena mereka sudah lama dibentuk dan mempersiapkan diri secara serius. Bahkan sebelum turun ke Liga Medco, hampir seluruh pemainnya menjadi pasukan inti timnas Indonesia U-15. Dalam babak penyisihan Grup V Liga Medco 2009 yang berlangsung 25–29 Oktober lalu, Jatim menyapu bersih tiga kemenangan atas Sulawesi Selatan (1-0), Sulawesi Tenggara (9-0), dan Sulawesi Barat (12-1).
Selain itu, penyerang Jatim Ricky Alvian mencatatkan rekor tersendiri. Ia selalu mencetak gol di setiap pertandingan dan menjadi pencetak gol terbanyak dengan 9 gol. Ricky membuat 1 gol saat melawan Sulsel, 4 gol ke gawang Sulteng, dan 4 gol juga ke gawang Sulbar.
Jatim akan bersaing ketat dengan Juara Liga Medco 2006 Maluku dan kuda hitam DI Yogyakarta di pertandingan babak 12 besar yang akan berlangsung di Bangkalan, Madura, 24 – 26 November ini. Selain lebih siap dan matang, dukungan penonton fanatik tuan rumah dapat menjadi keuntungan tersendiri buat Jatim. Pertandingan di Bangkalan ini akan dipantau langsung oleh salah satu anggota pemandu bakat yang mantan pemain nasional, Risdianto.
Perubahan jadwal terjadi di Grup A yang terdiri dari Sumatera Selatan, Nanggroe Aceh Darussalam, dan Jawa Barat. Jadwal semula 26–28 November berubah menjadi 29 November–1 Desember.
"Perubahan jadwal ini berdasarkan kesepakatan tiga tim. Mereka tidak memasalahkan waktu yang mepet hanya sehari untuk datang ke putaran final di Jakarta," kata Manajer Pembinaan Usia Muda BLA PSSI Raymond di Sekretariat PSSI, Senin (23/11).
Seperti diketahui, putaran final Liga Medco 2009, rencananya berlangsung di Stadion Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan. Semifinal pada 3 Desember dan finalnya sehari kemudian, 4 Desember.
Khusus babak final yang memperebutkan Piala Menegpora RI, rencananya bakal disiarkan secara langsung oleh TVRI Pusat dan dihadiri Menegpora RI Andi Mallarangeng, Ketua Umum PSSI Nurdin Halid, dan Pendiri Medco Group/Medco Foundation Arifin Panigoro.
- Tim-tim peserta babak 12 besar:
Grup A–Stadion Serasan Sekate, Musi Banyuasin, 29 November – 1 Desember
Sumatera Selatan
Nanggroe Aceh Darussalam
Jawa Barat
Grup B–Stadion Benteng, Tangerang, 25 – 28 November
Banten
Sumatera Barat
Riau
Grup C–Stadion Makassar, 25 – 28 November
Sulawesi Selatan
Jawa Tengah
Papua Barat
Grup D–Stadion Bangkalan, Madura, 24 – 26 November
Jawa Timur
Maluku
DI Yogyakarta
Komentar
Senang membaca berita ini, berarti sepakbola junior semakin diperhatikan. Inilah memang cikal bakal sepakbola yang akan menjadi pemain-pemain masa depan Indonesia. Selamat bertanding dan jangan bikin rusuh.
Jawa Timur siap menjadi tim pertama yang menjadi juara Liga Medco dua tahun berturut-turut. Seperti diketahui, setiap tahunnya, Liga Medco selalu memunculkan juara baru. Jawa Timur menjadi juara tahun 2008, menyusul Maluku dan DKI Jakarta yang menjadi juara di tahun 2006 dan 2007.
Jatim memang menjadi salah satu kandidat kuat juara karena mereka sudah lama dibentuk dan mempersiapkan diri secara serius. Bahkan sebelum turun ke Liga Medco, hampir seluruh pemainnya menjadi pasukan inti timnas Indonesia U-15. Dalam babak penyisihan Grup V Liga Medco 2009 yang berlangsung 25–29 Oktober lalu, Jatim menyapu bersih tiga kemenangan atas Sulawesi Selatan (1-0), Sulawesi Tenggara (9-0), dan Sulawesi Barat (12-1).
Selain itu, penyerang Jatim Ricky Alvian mencatatkan rekor tersendiri. Ia selalu mencetak gol di setiap pertandingan dan menjadi pencetak gol terbanyak dengan 9 gol. Ricky membuat 1 gol saat melawan Sulsel, 4 gol ke gawang Sulteng, dan 4 gol juga ke gawang Sulbar.
Jatim akan bersaing ketat dengan Juara Liga Medco 2006 Maluku dan kuda hitam DI Yogyakarta di pertandingan babak 12 besar yang akan berlangsung di Bangkalan, Madura, 24 – 26 November ini. Selain lebih siap dan matang, dukungan penonton fanatik tuan rumah dapat menjadi keuntungan tersendiri buat Jatim. Pertandingan di Bangkalan ini akan dipantau langsung oleh salah satu anggota pemandu bakat yang mantan pemain nasional, Risdianto.
Perubahan jadwal terjadi di Grup A yang terdiri dari Sumatera Selatan, Nanggroe Aceh Darussalam, dan Jawa Barat. Jadwal semula 26–28 November berubah menjadi 29 November–1 Desember.
"Perubahan jadwal ini berdasarkan kesepakatan tiga tim. Mereka tidak memasalahkan waktu yang mepet hanya sehari untuk datang ke putaran final di Jakarta," kata Manajer Pembinaan Usia Muda BLA PSSI Raymond di Sekretariat PSSI, Senin (23/11).
Seperti diketahui, putaran final Liga Medco 2009, rencananya berlangsung di Stadion Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan. Semifinal pada 3 Desember dan finalnya sehari kemudian, 4 Desember.
Khusus babak final yang memperebutkan Piala Menegpora RI, rencananya bakal disiarkan secara langsung oleh TVRI Pusat dan dihadiri Menegpora RI Andi Mallarangeng, Ketua Umum PSSI Nurdin Halid, dan Pendiri Medco Group/Medco Foundation Arifin Panigoro.
- Tim-tim peserta babak 12 besar:
Grup A–Stadion Serasan Sekate, Musi Banyuasin, 29 November – 1 Desember
Sumatera Selatan
Nanggroe Aceh Darussalam
Jawa Barat
Grup B–Stadion Benteng, Tangerang, 25 – 28 November
Banten
Sumatera Barat
Riau
Grup C–Stadion Makassar, 25 – 28 November
Sulawesi Selatan
Jawa Tengah
Papua Barat
Grup D–Stadion Bangkalan, Madura, 24 – 26 November
Jawa Timur
Maluku
DI Yogyakarta
Komentar
Senang membaca berita ini, berarti sepakbola junior semakin diperhatikan. Inilah memang cikal bakal sepakbola yang akan menjadi pemain-pemain masa depan Indonesia. Selamat bertanding dan jangan bikin rusuh.
Wednesday, November 18, 2009
Bendol Sesali Blunder Ismed
Masih ada penyesalan setelah pertandingan. Berikut dari Kompas.com:
Pelatih tim nasional Indonsia, Benny Dolo, menyesali tekel bek Ismed Sofyan kepada seorang pemain Kuwait pada duel lanjutan Prakualifikasi Piala Asia 2011, Rabu (18/11). Selain karena tidak perlu, Indonesia kekurangan darah sehingga musuh bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Pada pertandingan itu, Indonesia tampil agresif dan mampu mendesak Kuwait hingga terciptalah gol Budi Sudarsono menjelang akhir babak pertama. Gol Budi semakin mengobarkan semangat juang Indonesia untuk mengejar gol-gol berikutnya.
Sayangnya, mimpi itu tak pernah kesampaian. Sesaat setelah babak kedua bergulir, Ismed menekel pemain lawan. Bendol heran dengan aksi Ismed. Pasalnya, meski menguasai bola, posisi pergerakan musuh tidak berbahaya. Selain itu, Indonesia sendiri sedang berada di atas angin.
"Saya menyesali aksi Ismed. Itu memang tidak perlu karena kita sedang di atas angin. Musuh juga tidak dalam posisi mengancam. Namun, kartu merah Ismed membalik keadaan. Lawan jadi mendapat angin untuk meningkatkan serangan hingga akhirnya mampu menyamakan kedudukan," ulas Bendol.
"Terlepas dari itu, saya bangga dengan permainan anak-anak. Mereka tampil bersemangat. Padahal, Boaz (Salossa) dan Firman (Utina), kita tahu, tidak berada dalam kondisi fit. Sayang, kami tidak menang. Saya minta maaf kepada Indonesia atas hasil tidak memuaskan ini," tandasnya.
Sementara itu, Ismed sangat menyesal melihat fatalnya akibat yang ditimbulkan oleh tekelnya. Saking menyesalnya, ia sampai tak punya kalimat selain minta maaf.
"Aku sudah minta maaf kepada pelatih dan teman-teman. Aku juga minta maaf kepada seluruh Indonesia," ungkapnya.
Hasil imbang sebetulnya tidak terlalu mengecewakan mengingat Indonesia bermain dengan sepuluh pemain. Masalahnya, tambahan satu angka membuat Indonesia terancam tidak lolos ke putaran final.
Saat ini, Indonesia berada di dasar klasemen babak kualifikasi Grup B dengan tiga poin. Indonesia kalah empat angka dari Australia dan Kuwait di peringkat kedua dan pertama klasemen. Dengan dua laga tersisa, Indonesia tak boleh lagi gagal menuai poin penuh. Hal itu tak mudah karena Indonesia masih harus mengahdapi Oman dan Australia.
Komentar
Penyesalan di akhir tak ada guna. Kuwait tampaknya sudah mengincar Ismed agar disiasati untuk terkena kartu merah. Karena Ismed merupakan kunci kekuatan barisan belakang Indonesia. Sepanjang pertandingan terlihat ia dijahili terus agar ia membalas, dan puncaknya ia harus menerima kartu merah. Dengan keluarnya Ismed, Kuwait menjadi lebih leluasa menguasai permainan. Itulah strategi perang dalam berolahraga.
Italia pernah melakukannya di Piala Dunia 2006 lewat psywar Marco Materrazi kepada pemain kunci Prancis Zinedine Zidane. Zidane terprovokatif terhadap kata-kata Materrazi, akhirnya kita kenal dengan tandukkan Zidane kepada pemain belakang Italia itu. Zidane pun terkena kartu merah, Prancis pun gagal merebut Piala Dunia lagi padahal di dalam permainan sempat mengusai.
Pelatih tim nasional Indonsia, Benny Dolo, menyesali tekel bek Ismed Sofyan kepada seorang pemain Kuwait pada duel lanjutan Prakualifikasi Piala Asia 2011, Rabu (18/11). Selain karena tidak perlu, Indonesia kekurangan darah sehingga musuh bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Pada pertandingan itu, Indonesia tampil agresif dan mampu mendesak Kuwait hingga terciptalah gol Budi Sudarsono menjelang akhir babak pertama. Gol Budi semakin mengobarkan semangat juang Indonesia untuk mengejar gol-gol berikutnya.
Sayangnya, mimpi itu tak pernah kesampaian. Sesaat setelah babak kedua bergulir, Ismed menekel pemain lawan. Bendol heran dengan aksi Ismed. Pasalnya, meski menguasai bola, posisi pergerakan musuh tidak berbahaya. Selain itu, Indonesia sendiri sedang berada di atas angin.
"Saya menyesali aksi Ismed. Itu memang tidak perlu karena kita sedang di atas angin. Musuh juga tidak dalam posisi mengancam. Namun, kartu merah Ismed membalik keadaan. Lawan jadi mendapat angin untuk meningkatkan serangan hingga akhirnya mampu menyamakan kedudukan," ulas Bendol.
"Terlepas dari itu, saya bangga dengan permainan anak-anak. Mereka tampil bersemangat. Padahal, Boaz (Salossa) dan Firman (Utina), kita tahu, tidak berada dalam kondisi fit. Sayang, kami tidak menang. Saya minta maaf kepada Indonesia atas hasil tidak memuaskan ini," tandasnya.
Sementara itu, Ismed sangat menyesal melihat fatalnya akibat yang ditimbulkan oleh tekelnya. Saking menyesalnya, ia sampai tak punya kalimat selain minta maaf.
"Aku sudah minta maaf kepada pelatih dan teman-teman. Aku juga minta maaf kepada seluruh Indonesia," ungkapnya.
Hasil imbang sebetulnya tidak terlalu mengecewakan mengingat Indonesia bermain dengan sepuluh pemain. Masalahnya, tambahan satu angka membuat Indonesia terancam tidak lolos ke putaran final.
Saat ini, Indonesia berada di dasar klasemen babak kualifikasi Grup B dengan tiga poin. Indonesia kalah empat angka dari Australia dan Kuwait di peringkat kedua dan pertama klasemen. Dengan dua laga tersisa, Indonesia tak boleh lagi gagal menuai poin penuh. Hal itu tak mudah karena Indonesia masih harus mengahdapi Oman dan Australia.
Komentar
Penyesalan di akhir tak ada guna. Kuwait tampaknya sudah mengincar Ismed agar disiasati untuk terkena kartu merah. Karena Ismed merupakan kunci kekuatan barisan belakang Indonesia. Sepanjang pertandingan terlihat ia dijahili terus agar ia membalas, dan puncaknya ia harus menerima kartu merah. Dengan keluarnya Ismed, Kuwait menjadi lebih leluasa menguasai permainan. Itulah strategi perang dalam berolahraga.
Italia pernah melakukannya di Piala Dunia 2006 lewat psywar Marco Materrazi kepada pemain kunci Prancis Zinedine Zidane. Zidane terprovokatif terhadap kata-kata Materrazi, akhirnya kita kenal dengan tandukkan Zidane kepada pemain belakang Italia itu. Zidane pun terkena kartu merah, Prancis pun gagal merebut Piala Dunia lagi padahal di dalam permainan sempat mengusai.
Monday, November 16, 2009
Budi Sudarsono Dipanggil Lagi Perkuat Timnas
Berita-berita menjelang Indonesia vs Kuwait makin panas. Berikut dari Kompas.com:
Penyerang yang baru bergabung dengan Persib Bandung pada musim ini, Budi Sudarsono, dipanggil secara mendadak untuk mengikuti pemusatan latihan tim nasional senior di Jakarta. Hal itu dinilai mengganggu latihan kepaduan tim menjelang pertandingan penting dalam lanjutan Liga Super Indonesia (LSI) melawan Pelita Jaya FC, akhir pekan ini.
"Pemanggilannya mendadak. Surat dari Badan Tim Nasional baru kami terima pukul 13.30 tadi. Jam 16.00 dia meninggalkan Bandung," kata Sekretaris Persib Yudiana di Stadion Persib Jalan Ahmad Yani, Bandung, Senin (16/11).
Asisten Manajer Tim Nasional Chandra Solehan mengatakan, hanya mantan penyerang Sriwijaya FC itulah yang dipanggil menyusul pemain lainnya yang baru pulang dari Kuwait. Budi dipanggil karena kondisi Boaz (Salossa) belum pulih benar. Jadi dia diharapkan bisa berkontribusi terhadap serangan Indonesia, kata Chandra.
Tim nasional Indonesia menelan kekalahan 1-2 (1-0) dalam perta rungan pertama di Kuwait, Sabtu lalu. Pertandingan kedua akan digelar di Jakarta pada 18 November mendatang.
Berangkatnya Budi menunaikan tugas negara itu menambah pemain Persib yang absen berlatih dalam hari-hari terakhir menjelang laga melawan Pelita Jaya menjadi tujuh orang . Sebelumnya, Maman Abdurahman, Nova Ariyanto, Eka Ramdhani, dan Hariono berangkat lebih dulu mengikuti pemusatan latihan. Dua pemain tim nasional Thailand, Suchao Nutnum dan Sinthavechai Kosin Hathairattanakool pun pulang kampung sebelum melawan Singapura.
Pelatih Persib Jaya Hartono menganggap banyaknya pemain yang dipanggil tim nasional sangat merugikan. Lebih dari setengah pemain inti Persib tidak latihan. Bagi pemain, memperkuat timnas dapat menaikkan kemampuan individu dan harga mereka. Tapi bagi klub yang perlu membangun kerjasama antarpemain, hal itu mengganggu, kata Jaya.
Sementara itu dua pemain asal Thailand, Kosin dan Sunchao rencananya bergabung dengan Tim Persib, pada Kamis (19/11) mendatang.
Komentar
Untuk tim nasional, tak ada kata lain: terus berjuang, raih kemenangan! Buat Persib: berlatih terus donk, jangan melempem melulu.
Penyerang yang baru bergabung dengan Persib Bandung pada musim ini, Budi Sudarsono, dipanggil secara mendadak untuk mengikuti pemusatan latihan tim nasional senior di Jakarta. Hal itu dinilai mengganggu latihan kepaduan tim menjelang pertandingan penting dalam lanjutan Liga Super Indonesia (LSI) melawan Pelita Jaya FC, akhir pekan ini.
"Pemanggilannya mendadak. Surat dari Badan Tim Nasional baru kami terima pukul 13.30 tadi. Jam 16.00 dia meninggalkan Bandung," kata Sekretaris Persib Yudiana di Stadion Persib Jalan Ahmad Yani, Bandung, Senin (16/11).
Asisten Manajer Tim Nasional Chandra Solehan mengatakan, hanya mantan penyerang Sriwijaya FC itulah yang dipanggil menyusul pemain lainnya yang baru pulang dari Kuwait. Budi dipanggil karena kondisi Boaz (Salossa) belum pulih benar. Jadi dia diharapkan bisa berkontribusi terhadap serangan Indonesia, kata Chandra.
Tim nasional Indonesia menelan kekalahan 1-2 (1-0) dalam perta rungan pertama di Kuwait, Sabtu lalu. Pertandingan kedua akan digelar di Jakarta pada 18 November mendatang.
Berangkatnya Budi menunaikan tugas negara itu menambah pemain Persib yang absen berlatih dalam hari-hari terakhir menjelang laga melawan Pelita Jaya menjadi tujuh orang . Sebelumnya, Maman Abdurahman, Nova Ariyanto, Eka Ramdhani, dan Hariono berangkat lebih dulu mengikuti pemusatan latihan. Dua pemain tim nasional Thailand, Suchao Nutnum dan Sinthavechai Kosin Hathairattanakool pun pulang kampung sebelum melawan Singapura.
Pelatih Persib Jaya Hartono menganggap banyaknya pemain yang dipanggil tim nasional sangat merugikan. Lebih dari setengah pemain inti Persib tidak latihan. Bagi pemain, memperkuat timnas dapat menaikkan kemampuan individu dan harga mereka. Tapi bagi klub yang perlu membangun kerjasama antarpemain, hal itu mengganggu, kata Jaya.
Sementara itu dua pemain asal Thailand, Kosin dan Sunchao rencananya bergabung dengan Tim Persib, pada Kamis (19/11) mendatang.
Komentar
Untuk tim nasional, tak ada kata lain: terus berjuang, raih kemenangan! Buat Persib: berlatih terus donk, jangan melempem melulu.
Thursday, November 12, 2009
Indonesia Hajar Taiwan 6-0
Setelah kalah dua kali, tim nasional U-19 memetik kemenangan besar. Berikut berita dari Kompas.com:
Indonesia menambah tiga gol di babak kedua dan menghajar Taiwan 6-0 (3-0) pada partai lanjutan kualifikasi Piala Asia di bawah usia 19 tahun (U-19) 2010 Grup F di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Kamis (12/11). Kemenangan ini merupakan poin pertama yang dipetik tim Merah-Putih dalam tiga pertandingan.
Duet striker Syamsir Alam-Alan Martha masing-masing mencetak satu gol lagi di babak kedua pada menit ke-48 dan ke-57, disusul gelandang Feri Fermansyah pada menit ke-67. Di babak pertama, tim asuhan pelatih Cesar Payovich sudah mengantongi tiga gol yang dicetak Alan Martha pada menit ke-6, Syamsir Alam pada menit ke-20, dan bek Ferdiansyah pada menit ke-23.
Sadar membutuhkan banyak gol untuk memperbaiki posisi di klasemen, Syamsir Alam dan kawan-kawan terus membombardir Taiwan di babak pertama. Pada tiga menit setelah turun minum, Syamsir menyambut umpan Alan Martha dengan tandukan berbuah gol. Pada sembilan menit kemudian, giliran Martha menjebol gawang kiper Taiwan, Pan Wen-chieh, yang berbuat blunder.
Tendangan Martha sebenarnya telah diblok kiper Pan Wen-chieh, tetapi lepas dan melewati garis gawang. Kiper Taiwan itu tampil buruk dan pada menit ke-67 gawangnya kebobolan lagi oleh gelandang Feri Firmansyah yang melepaskan tembakan melengkung dan melewati kepala Pan Wen-chieh.
Pada tiga menit kemudian, Pan Wen-chieh digantikan kiper cadangan, Tsai Chih-hsin. Kemenangan ini sedikit memberikan hiburan setelah Indonesia menelan kekalahan pada dua laga pertama, 0-1 dari Singapura dan 0-7 dari Jepang.
Komentar
Hanya menghidupkan peluang saja, tapi nilai peluangnya kecil. Sebab Australia lawan berikut. Bolehlah sebagai warga Indonesia mendukung, tapi tetap saja menuntut pembinaan yang yahud untuk kompetisi di dalam negeri yang merupakan sumber pemain-pemain nasional.
Indonesia menambah tiga gol di babak kedua dan menghajar Taiwan 6-0 (3-0) pada partai lanjutan kualifikasi Piala Asia di bawah usia 19 tahun (U-19) 2010 Grup F di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Kamis (12/11). Kemenangan ini merupakan poin pertama yang dipetik tim Merah-Putih dalam tiga pertandingan.
Duet striker Syamsir Alam-Alan Martha masing-masing mencetak satu gol lagi di babak kedua pada menit ke-48 dan ke-57, disusul gelandang Feri Fermansyah pada menit ke-67. Di babak pertama, tim asuhan pelatih Cesar Payovich sudah mengantongi tiga gol yang dicetak Alan Martha pada menit ke-6, Syamsir Alam pada menit ke-20, dan bek Ferdiansyah pada menit ke-23.
Sadar membutuhkan banyak gol untuk memperbaiki posisi di klasemen, Syamsir Alam dan kawan-kawan terus membombardir Taiwan di babak pertama. Pada tiga menit setelah turun minum, Syamsir menyambut umpan Alan Martha dengan tandukan berbuah gol. Pada sembilan menit kemudian, giliran Martha menjebol gawang kiper Taiwan, Pan Wen-chieh, yang berbuat blunder.
Tendangan Martha sebenarnya telah diblok kiper Pan Wen-chieh, tetapi lepas dan melewati garis gawang. Kiper Taiwan itu tampil buruk dan pada menit ke-67 gawangnya kebobolan lagi oleh gelandang Feri Firmansyah yang melepaskan tembakan melengkung dan melewati kepala Pan Wen-chieh.
Pada tiga menit kemudian, Pan Wen-chieh digantikan kiper cadangan, Tsai Chih-hsin. Kemenangan ini sedikit memberikan hiburan setelah Indonesia menelan kekalahan pada dua laga pertama, 0-1 dari Singapura dan 0-7 dari Jepang.
Komentar
Hanya menghidupkan peluang saja, tapi nilai peluangnya kecil. Sebab Australia lawan berikut. Bolehlah sebagai warga Indonesia mendukung, tapi tetap saja menuntut pembinaan yang yahud untuk kompetisi di dalam negeri yang merupakan sumber pemain-pemain nasional.
Monday, November 9, 2009
Indonesia Lawan Jepang, 10 Menit 1 Gol
Pertandingannya sempat kita saksikan secara langsung di televisi. Beritanya dari Kompas.com:
Tingkat kualitas Timnas Indonsia U-19 benar-benar terlihat saat menghadapi Jepang pada kualifikasi Piala Asia U-19 di Stadion Si Jalak Harupat, Senin (9/11). Indonesia seperti linglung, tak tahu bagaimana memainkan bola. Sampai 70 menit pertama, rata-rata setiap 10 menit Indonesia kemasukan satu gol dan akhirnya kalah 0-7.
Indonesia hanya bisa menendang dan berlari, tanpa visi dan strategi yang meyakinkan. Bahkan, kemampuan dasar seperti mengumpan, mengontrol, dan bergerak tanpa bola pun masih parah. Akibatnya, Indonesia menjadi bulan-bulanan Jepang.
Kekalahan telak itu membuat Indonesia akan semakin sulit lolos ke babak berikutnya. Mereka harus menang lawan Hongkong, Taiwan, dan Australia. Yang terakhir itu bakal menjadi lawan berat Indonesia.
Pertandingan yang dipimpin wasit Kodhim Oda Lazeem dari Iran itu berlangsung dalam tempo sedang dan kurang berimbang. Jepang unggul 3-0 di babak pertama, lewat gol Takagi Toshoyuki menit ke-3, Nagai Ryo menit ke-10, dan Kato Masaru menit ke-40.
Memasuki babak kedua, Indonesia semakin kehilangan akal. Mereka hanya bisa berlari dan menendang bola, kadang terkesan asal-asalan. Sehingga, tim yang dilatih di Uruguay ini semakin tertekan. Jepang pun dengan mudah menambah empat gol untuk menyempurnakan kemenangan 7-0.
Susunan pemain Indonesia: Yuwanto Stya Beny (kiper), Yericho Christiantoko, Ferry Firmansyah, Mokhamad Syaifudin, Abdul Rahman Lestaluhu, Yandi Sofyan, Alan Martha, Mochamad Zaenal Haq, Rizki Ahmad Sanjaya, Vava Mario Zagalo, Alfin Ismail Tuasalamoni
Pelatih : Cesar Payovich.
Susunan pemain Jepang: Nakamura Hayato (kiper), Tanaka Masaki, Takahasi Shohei, Kikuci Daisuki, Musaka Mitsunari, Oghihara Takahiro, Kato Masaru, Furuta Hiroyuki, Takagi Toshiyoki, Nagai Ryo, Iwata Shuhei
Pelatih: Nuno Keiichiro.
Komentar
Kalah 0-1 dari Singapura, Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, merasa puas. Nah, kalau kalah 0-7 dari Jepang? Jangan-jangan merasa sangat puas! Tidak rasional! Bagaimana dengan ambisi semakin besar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022? Alangkah bijaknya kalau kita introspeksi diri untuk mencabut pencalonan tersebut.
Tingkat kualitas Timnas Indonsia U-19 benar-benar terlihat saat menghadapi Jepang pada kualifikasi Piala Asia U-19 di Stadion Si Jalak Harupat, Senin (9/11). Indonesia seperti linglung, tak tahu bagaimana memainkan bola. Sampai 70 menit pertama, rata-rata setiap 10 menit Indonesia kemasukan satu gol dan akhirnya kalah 0-7.
Indonesia hanya bisa menendang dan berlari, tanpa visi dan strategi yang meyakinkan. Bahkan, kemampuan dasar seperti mengumpan, mengontrol, dan bergerak tanpa bola pun masih parah. Akibatnya, Indonesia menjadi bulan-bulanan Jepang.
Kekalahan telak itu membuat Indonesia akan semakin sulit lolos ke babak berikutnya. Mereka harus menang lawan Hongkong, Taiwan, dan Australia. Yang terakhir itu bakal menjadi lawan berat Indonesia.
Pertandingan yang dipimpin wasit Kodhim Oda Lazeem dari Iran itu berlangsung dalam tempo sedang dan kurang berimbang. Jepang unggul 3-0 di babak pertama, lewat gol Takagi Toshoyuki menit ke-3, Nagai Ryo menit ke-10, dan Kato Masaru menit ke-40.
Memasuki babak kedua, Indonesia semakin kehilangan akal. Mereka hanya bisa berlari dan menendang bola, kadang terkesan asal-asalan. Sehingga, tim yang dilatih di Uruguay ini semakin tertekan. Jepang pun dengan mudah menambah empat gol untuk menyempurnakan kemenangan 7-0.
Susunan pemain Indonesia: Yuwanto Stya Beny (kiper), Yericho Christiantoko, Ferry Firmansyah, Mokhamad Syaifudin, Abdul Rahman Lestaluhu, Yandi Sofyan, Alan Martha, Mochamad Zaenal Haq, Rizki Ahmad Sanjaya, Vava Mario Zagalo, Alfin Ismail Tuasalamoni
Pelatih : Cesar Payovich.
Susunan pemain Jepang: Nakamura Hayato (kiper), Tanaka Masaki, Takahasi Shohei, Kikuci Daisuki, Musaka Mitsunari, Oghihara Takahiro, Kato Masaru, Furuta Hiroyuki, Takagi Toshiyoki, Nagai Ryo, Iwata Shuhei
Pelatih: Nuno Keiichiro.
Komentar
Kalah 0-1 dari Singapura, Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, merasa puas. Nah, kalau kalah 0-7 dari Jepang? Jangan-jangan merasa sangat puas! Tidak rasional! Bagaimana dengan ambisi semakin besar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022? Alangkah bijaknya kalau kita introspeksi diri untuk mencabut pencalonan tersebut.
Thursday, November 5, 2009
Dana Dipotong, Atlet Unjuk Rasa
Berita olahraga dari daerah ini pantas diperhatikan oleh pemerintah pusat. Sumbernya dari Kompas.com:
Sedikitnya 300 pengurus dan atlet dari berbagai cabang olahraga yang menamakan diri Forum Bersama Masyarakat Olahraga Cianjur, mendatangi Pemkab Cianjur, Kamis.
Pasalnya dana KONI Cianjur, yang hingga kini belum kunjung cair dengan alasan yang tidak jelas, membuat nasib ratusan atlet Cianjur, terancam tidak ikut dalam Porda 2010 mendatang.
Para pengunjuk rasa dari berbagai cabang olahraga itu mengawali aksi dengan mengendarai berbagai jenis kendaraan dari halaman KONI Cianjur menuju Pemkab Cianjur.
Para olahragawan itu menuntut agar Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh memberikan penjelasan perihal dana bagi atlet yang sejak jauh hari telah mempersipakan diri untuk ikut Porda. "Jangan defisit dijadikan alasan, karena banyak dana yang bisa dipotong dari program-program Bupati yang selama ini tidak jelas. Tidak ikut Porda, yang malu bukan Bupati, tapi masyarakat Cianjur," kata para pengujuk rasa.
Pengajuan dana KONI ke Pemkab Cianjur, hingga kini belum ada respons. Bahkan tersiar kabar dana yang diajukan sebesar 4,5 milyar rupiah hanya dipenuhi 1 milyar rupiah. "Bahkan dana tersebut kembali dipotong dan hanya muncul nominal kosong di anggaran. Ini menandakan Bupati Cianjur, tidak menghargai jasa atlet yang selama ini membawa harum nama Cianjur," ucap Adi Maryadi, koordiantor aksi.
Aksi yang mendapat pengawalan ketat aparat keamanan itu, tidak dapat menahan keinginan para pengunjuk rasa untuk masuk ke dalam areal kantor Pemkab Cianjur.
Akibatnya, ratusan sepeda motor dan kendaraan roda empat milik pengunjuk rasa, dapat masuk ke pelataran parkir yang berjarak puluhan meter dari Pendopo Kabupaten. "Kami menuntut agar Bupati Cianjur mundur dari jabatannya karena kami sebagai atlet malu memiliki pemimpin yang tidak menghargai prestasi atlet," kata Deni Gawel pengurus cabang olahraga.
Usai beberapa saat melakukan orasi, ratusan orang itu kemudian melanjutkan aksinya ke Gedung DPRD Cianjur, menuntut agar anggaran dan dana KONI Cianjur segera dikucurkan.
Komentar
Cianjur, Cianjur, tidak senikmat berasnya. Perlu turun tangan pemerintah pusat mengetahui kemana larinya dana-dana olahraga.
Sedikitnya 300 pengurus dan atlet dari berbagai cabang olahraga yang menamakan diri Forum Bersama Masyarakat Olahraga Cianjur, mendatangi Pemkab Cianjur, Kamis.
Pasalnya dana KONI Cianjur, yang hingga kini belum kunjung cair dengan alasan yang tidak jelas, membuat nasib ratusan atlet Cianjur, terancam tidak ikut dalam Porda 2010 mendatang.
Para pengunjuk rasa dari berbagai cabang olahraga itu mengawali aksi dengan mengendarai berbagai jenis kendaraan dari halaman KONI Cianjur menuju Pemkab Cianjur.
Para olahragawan itu menuntut agar Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh memberikan penjelasan perihal dana bagi atlet yang sejak jauh hari telah mempersipakan diri untuk ikut Porda. "Jangan defisit dijadikan alasan, karena banyak dana yang bisa dipotong dari program-program Bupati yang selama ini tidak jelas. Tidak ikut Porda, yang malu bukan Bupati, tapi masyarakat Cianjur," kata para pengujuk rasa.
Pengajuan dana KONI ke Pemkab Cianjur, hingga kini belum ada respons. Bahkan tersiar kabar dana yang diajukan sebesar 4,5 milyar rupiah hanya dipenuhi 1 milyar rupiah. "Bahkan dana tersebut kembali dipotong dan hanya muncul nominal kosong di anggaran. Ini menandakan Bupati Cianjur, tidak menghargai jasa atlet yang selama ini membawa harum nama Cianjur," ucap Adi Maryadi, koordiantor aksi.
Aksi yang mendapat pengawalan ketat aparat keamanan itu, tidak dapat menahan keinginan para pengunjuk rasa untuk masuk ke dalam areal kantor Pemkab Cianjur.
Akibatnya, ratusan sepeda motor dan kendaraan roda empat milik pengunjuk rasa, dapat masuk ke pelataran parkir yang berjarak puluhan meter dari Pendopo Kabupaten. "Kami menuntut agar Bupati Cianjur mundur dari jabatannya karena kami sebagai atlet malu memiliki pemimpin yang tidak menghargai prestasi atlet," kata Deni Gawel pengurus cabang olahraga.
Usai beberapa saat melakukan orasi, ratusan orang itu kemudian melanjutkan aksinya ke Gedung DPRD Cianjur, menuntut agar anggaran dan dana KONI Cianjur segera dikucurkan.
Komentar
Cianjur, Cianjur, tidak senikmat berasnya. Perlu turun tangan pemerintah pusat mengetahui kemana larinya dana-dana olahraga.
Subscribe to:
Posts (Atom)

