Monday, October 12, 2009

Nurdin Halid Terancam Masuk Bui Lagi, MASIH MAU TUAN RUMAH PIALA DUNIA 2022?

Persiapan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 terus dilakukan oleh PSSI. Mereka sudah membentuk tim dan sudah banyak melakukan lobi, khususnya ke negara-negara Amerika Selatan. Seperti diketahui bersama
Australia, Kanada, Cina, Meksiko, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Rusia, Portugal, Spanyol dan trio Belgia-Belanda-Luksemburg, Indonesia mencalonkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Namun, pencalonan itu bisa menjadi mentah sebab sang Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid kini terancam masuk bui lagi. Sekarang ini statusnya memang masih sebagai saksi dugaan kasus suap mantan Deputy Senior Bank Indonesia, Miranda Gultom.

Nurdin akan diperiksa saksi dari tersangka Dhudie Makmum Murod, Udju Juhaeri, Endin AJ Soefihara dan Hamka Yandhu. Kasus ini berawal dari pengakuan mantan anggota fraksi PDI Perjuangan, Agus Condro. Dia mengaku dikumpulkan oleh pimpinan fraksi, tiga minggu menjelang pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia, Miranda Swaray Goeltom di ruang poksi IX. Agus mengakui peserta rapat internal tersebut adalah para anggota komisi IX DPR RI. Peserta diarahkan untuk memilih Miranda S Goeltom sebagai Deputi Senior BI dengan imbalan Rp 300.000.000 sampai Rp 500.000.000 per anggota.

Setelah pemilihan yang akhirnya dimenangkan Miranda, anggota komisi IX diajak Duddie Makmun ke ruang Emir Moies. Menurut Agus Condro, Emir dan Duddie membagikan kepada masing-masing anggota Komisi IX yang hadir cek perjalanan sebanyak 10 lembar. Satu lembar cek tersebut senilai Rp 50.000.000.

Dalam kasus ini, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) telah menyerahkan data langsung ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mulai dari sumber dana dan orang-orang yang mencairkan cek tersebut. Dari penelusuran PPATK yang datanya diserahkan ke KPK, terdapat sembilan anggota DPR yang mencairkan cek sebanyak 74 lembar. Enam anggota mencairkan lewat kerabat sebanyak 71 lembar dan 26 orang mencairkan lewat orang lain sebanyak 335 lembar.

Dari saksi bisa saja Nurdin Halid menjadi tersangka. Dan bisa juga ia masuk bui lagi, seperti yang pernah dialaminya. Ketika itu posisi Ketua Umum memang tidak sampai lepas, namun kini dengan tambahan tugas menjadi duta pencalonan Indonesia sebagai calon tuan rumah Piala Dunia 2022, apa mungkin diembannya?

Duabelas Stadion

Untuk menjadi tuan rumah, FIFA mensyaratkan ada satu stadion
berkapasitas di atas 80 ribu tempat duduk untuk final dan 12
stadion lain berkapasitas minimal 40 ribu tempat duduk. Ini bisa menjadi masalah bagi Indonesia yang biasa membangun stadion-stadion kecil, meski untuk final sudah memiliki Gelora Bung Karno yang bisa menampung 88 ribu penonton.

Secara resmi pengajuan proposal kepada FIFA untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 sudah dilakukan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada Januari lalu, dan Indonesia sudah memenuhi salah satu syarat FIFA, yakni memiliki stadion berkapasitas lebih dari 80.000 penonton untuk pertandingan pembuka dan final. Stadion utama Gelora Bung Karno saat ini dapat menampung 88.000 suporter dan telah digunakan untuk turnamen internasional antara lain final Piala Asia 2007.

"Ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang PSSI untuk kejuaraan Piala Dunia," sebut pernyataan PSSI. "Kami masih punya waktu 13 tahun mendatang, jadi mengapa kami tidak memberanikan diri mencalonkan diri sebagai tuan rumah?" kata Sekjen PSSI Nugraha Besoes seperti dikutip Reuters.

Tak satu pun negara di Amerika Latin boleh mengajukan diri sebagai tuan rumah di turnamen itu karena Brasil akan menjadi tuan rumah pada 2014. Negara-negara Afrika juga hanya boleh mendaftar untuk tuan rumah pada 2022, karena Afrika Selatan akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010.

FIFA kemudian akan mengumumkan siapa yang berhak menjadi tuan rumah pada Desember 2010. Jika berhasil, Indonesia akan menjadi tuan rumah kedua di Asia setelah Jepang dan Korea Selatan bekerja sama menjadi tuan rumah turnamen tersebut pada 2002.

Banyak Kendala
Selain pembangunan atau pun renovasi stadion yang memerlukan biaya besar, juga penyediaan sarana transportasi umum yang mudah bagi pendatang serta infrastruktur lain, memerlukan dana yang juga tinggi pula.
Hal yang tidak kalah penting pula adalah menyiapkan kesebelasan Indonesia yang tangguh. Karena jika berlaku sebagai tuan rumah, tim nasional akan lolos otomatis ke Piala Dunia. Dengan melihat prestasi seperti sekarang ini bukan tidak mungkin kesebelasan kita akan menjadi bulan-bulanan tim elit dunia nanti.

Kalau disuruh memilih, lebih baik punya kesebelasan tangguh dulu baru menjadi tuan rumah atau jadi tuan rumah dulu sementara kondisi tim tidak menjadi persoalan, tampaknya tidak salah kalau mengedepankan tim yang tangguh dulu baru memikirkan tuan rumah Piala Dunia.

Apalagi dengan kondisi ketua umum PSSI sekarang sedang bermasalah. Masih mau tuan rumah Piala Dunia 2022?

Dukungan dan Mimpi

Meski masih tahap awal, dukungan untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 sudah ada, khususnya lewat spanduk yang bisa dibaca di tempat-tempat strategis Jakarta. Dukungan itu berasal dari Masyarakat Sepakbola Indonesia (MSBI).

Pasca terjadinya tragedi ledakan bom di dua hotel di Jakarta medio Juli ini MSBI juga tetap yakin kalau Indonesia tetap aman dan mampu memenangi bidding tersebut. Mereka juga berharap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ikut berperan dalam dukungan ini.

"PSSI mesti berkoordinasi dengan pemerintah karena Piala Dunia bukan tanggung jawab PSSI semata melainkan tanggung jawab seluruh rakyat yang diwakili pemerintah," kata Sarman El Hakim, Ketua MSBI.

Dari kalangan pemerintah, baru Wakil Presiden (yang tidak akan berada di pemerintah lagi), Jusuf Kalla, yang baru berkomentar. Dia mendukung pencalonan itu. Sementara itu, dari RI-1, baru Juru Bicara Andi Malarangeng yang berkomentar: ”Pencalonan itu hanya mimpi,”katanya.

Memang semestinya kita perlu bercermin dulu. Daripada ke depannya nanti malu-maluin......

0 comments: