Wednesday, November 18, 2009

Bendol Sesali Blunder Ismed

Masih ada penyesalan setelah pertandingan. Berikut dari Kompas.com:

Pelatih tim nasional Indonsia, Benny Dolo, menyesali tekel bek Ismed Sofyan kepada seorang pemain Kuwait pada duel lanjutan Prakualifikasi Piala Asia 2011, Rabu (18/11). Selain karena tidak perlu, Indonesia kekurangan darah sehingga musuh bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Pada pertandingan itu, Indonesia tampil agresif dan mampu mendesak Kuwait hingga terciptalah gol Budi Sudarsono menjelang akhir babak pertama. Gol Budi semakin mengobarkan semangat juang Indonesia untuk mengejar gol-gol berikutnya.

Sayangnya, mimpi itu tak pernah kesampaian. Sesaat setelah babak kedua bergulir, Ismed menekel pemain lawan. Bendol heran dengan aksi Ismed. Pasalnya, meski menguasai bola, posisi pergerakan musuh tidak berbahaya. Selain itu, Indonesia sendiri sedang berada di atas angin.

"Saya menyesali aksi Ismed. Itu memang tidak perlu karena kita sedang di atas angin. Musuh juga tidak dalam posisi mengancam. Namun, kartu merah Ismed membalik keadaan. Lawan jadi mendapat angin untuk meningkatkan serangan hingga akhirnya mampu menyamakan kedudukan," ulas Bendol.

"Terlepas dari itu, saya bangga dengan permainan anak-anak. Mereka tampil bersemangat. Padahal, Boaz (Salossa) dan Firman (Utina), kita tahu, tidak berada dalam kondisi fit. Sayang, kami tidak menang. Saya minta maaf kepada Indonesia atas hasil tidak memuaskan ini," tandasnya.

Sementara itu, Ismed sangat menyesal melihat fatalnya akibat yang ditimbulkan oleh tekelnya. Saking menyesalnya, ia sampai tak punya kalimat selain minta maaf.

"Aku sudah minta maaf kepada pelatih dan teman-teman. Aku juga minta maaf kepada seluruh Indonesia," ungkapnya.

Hasil imbang sebetulnya tidak terlalu mengecewakan mengingat Indonesia bermain dengan sepuluh pemain. Masalahnya, tambahan satu angka membuat Indonesia terancam tidak lolos ke putaran final.

Saat ini, Indonesia berada di dasar klasemen babak kualifikasi Grup B dengan tiga poin. Indonesia kalah empat angka dari Australia dan Kuwait di peringkat kedua dan pertama klasemen. Dengan dua laga tersisa, Indonesia tak boleh lagi gagal menuai poin penuh. Hal itu tak mudah karena Indonesia masih harus mengahdapi Oman dan Australia.

Komentar
Penyesalan di akhir tak ada guna. Kuwait tampaknya sudah mengincar Ismed agar disiasati untuk terkena kartu merah. Karena Ismed merupakan kunci kekuatan barisan belakang Indonesia. Sepanjang pertandingan terlihat ia dijahili terus agar ia membalas, dan puncaknya ia harus menerima kartu merah. Dengan keluarnya Ismed, Kuwait menjadi lebih leluasa menguasai permainan. Itulah strategi perang dalam berolahraga.

Italia pernah melakukannya di Piala Dunia 2006 lewat psywar Marco Materrazi kepada pemain kunci Prancis Zinedine Zidane. Zidane terprovokatif terhadap kata-kata Materrazi, akhirnya kita kenal dengan tandukkan Zidane kepada pemain belakang Italia itu. Zidane pun terkena kartu merah, Prancis pun gagal merebut Piala Dunia lagi padahal di dalam permainan sempat mengusai.

0 comments: