Thursday, January 21, 2010

PAL Gagal

Kalau saja dulu harapan Menegpora lama Adhyaksa Dault yang menginginkan agar Indonesia di SEA Games Laos 2009 diwakili oleh atlet-atlet yang tergabung dalam Program Atlet Andalan (PAL), maka posisi tiga besar gagal tercapai. Dari 43 medali emas yang diperoleh Indonesia, hanya 27 yang dicapai oleh atlet-atlet PAL. Artinya, dengan 27 emas kita berada di posisi ke-8 atau di bawah Laos yang menyabet 33 emas.

Ketika itu harapan besar kepada PAL diagungkan oleh Adhyaksa sebagai proyek masa depan olahraga Indonesia. Peran KONI yang mengedepankan sistem Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) tidak diprioritaskan. Bahkan suara-suara menyingkirkan KONI begitu besar. Dasarnya, kan yang berperan ke arena Olimpiade adalah KOI (Komite Olimpiade Indonesia). PAL yang menyediakan atlet, sementara KOI secara administrasi yang mengirim kontingen. Kenapa harus ada KONI?

Target pun dilambungkan PAL, tiga besar dengan 49 medali emas. Untunglah usaha KONI dan beberapa pengamat senior yang masih mengehendaki pembinaan prestasi tetap di bawah KONI Pusat tidak kenal lelah. Polemik yang berkembang ke arah pengkotakan pun terjadi. Pengkotakan bukan hanya pada para atlet maupun ofisial, bahkan juga terjadi di kalangan wartawan. Ada wartawan PAL, ada pula wartawan KONI.

Di saat ”konflik” pembinaan muncul dan di tengah penungguan Adhyaksa sebagai Menegpora lagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono justru memilih Andi Alifian Mallarangeng sebagai Menegpora baru. Tokoh olahraga nomor satu ini memang sama-sama berkumis, tapi kebijakan berbeda.

Langkah pertama mantan juru bicara Presiden itu tepat sekali, mengembalikan peran pembinaan olahraga di Tanah Air di tangan KONI. Maka mau tidak mau peran organisasi pimpinan Rita Subowo itu yang memegang kendali pengiriman atlet ke SEA Games XXV di Laos. Pemerintah sendiri berdiri di belakang, sebagai pengawas yang tentu menuntut akuntabilitas KONI. Tidak lagi seperti era Adhyaksa, ya wasit ya juga pemain.

Sedari awal, tampak Rita tidak ingin konflik. Pelatnas Terpadu yang tetap berjalan justru membawa konsep-konsep segar dengan mengajak pemerintah daerah maupun PB-PB untuk membantu pengiriman atlet ke SEA Games. Jadilah kontingen Indonesia ke Laos itu bermaterikan atlet-atlet PAL dan Pelatnas dengan komando berada di tangan KONI/KOI. Hasilnya, walau masih kurang memuaskan tapi target tiga besar tercapai.

Hasil ini memang berkat semua pihak, tapi kalau dirinci dari target masing-masing kubu, justru PAL yang banyak gagalnya. Dari 49 emas yang diharapkan, cuma 27 emas yang tercapai. Sementara itu, KONI menargetkan 50 emas diraih oleh kontingen Indonesia. Bisa dibayangkan kalau keinginan awal dilakukan tanpa melibatkan Pelatnas Terpadu, kontingen kita yang bermaterikan seluruh atlet PAL akan berada di bawah Laos yang menduduki posisi ke-7.

Untunglah hal itu tidak terjadi, namun eforia dua kubu terjadi juga di Laos. Kontingen Indonesia mempunyai dua posko. Belum lagi dalam pemberitaan-pemberitaan, keberhasilan satu atlet PAL umpamanya dibesar-besarkan asal prosesnya. Padahal perlu diingat keberhasilan Suryo Agung Wibowo misalnya bukan hanya karena binaan PAL sekarang ini, tapi peran PASI dan klub asalnya sangat besar. Dan itu terjadi jauh sebelum PAL berdiri.

Berdayakan PB-PB
PAL atau apapun namanya tetap saja merupakan program-program instan yang mempunyai batas waktu kerja. Sumber pembinaan yang stabil tetap berada di induk-induk organisasi olahraga (PB/PP). Maka, ketimbang mengambil peran PB ke PAL, kenapa tidak PB/PP saja diberdayakan secara maksimal?

Di setiap PB/PP ada bidang pembinaan prestasi yang biasanya ditempati oleh orang-orang yang berkompeten. Isi saja ilmu para pengurus bidang ini dengan sport science, sport intelegent, dan banyak ilmu lagi dengan tentu pengawasan yang ketat. Siapa yang mengawasi, ya KONI yang merupakan induk dari PB/PP. Output pengawasan KONI ini akan diawasi pula secara ketat oleh kantor Menegpora.

Hirarki organisasi semacam ini sudah lama ada dan sangat sederhana untuk dilakukan. Kenapa harus dibentuk pula PAL yang awalnya diharapkan berdasarkan surat keputusan Presiden, layaknya KONI? Struktur organisasi olahraga nasional menjadi semakin gemuk, padahal dana yang tersedia di pemerintah sangat kurus.

Kalau oknum-oknum KONI yang kurang becus bekerjanya, bukan organisasinya dihapus tapi perbaiki sumber daya manusianya. Banyak pengurus di PAL juga jadi pengurus di PB. Ini pun mesti dipertanyakan. Kenapa untuk PAL mau bekerja keras sedangkan untuk PB setengah-setengah?

Kita bisa lihat cabang-cabang yang berprestasi di SEA Games lalu merupakan cermin kesuksesan kinerja di PB, seperti PASI (atletik), PABBSI (Angkat Besi), Perpani (panahan), dan beberapa lagi. Sementara PB yang kurang bagus terlihat pula, seperti PSSI (sepakbola), PTMSI (tenis meja), dan beberapa lagi.

Bagus kinerja di PB maksudnya adalah dengan banyaknya kompetisi dengan tidak meninggalkan patokan usia maupun uji coba bagi para atlet. Sepakbola, kompetisinya memang bagus tapi hanya dari segi kuantitas. Kualitasnya remuk, juga pembinaan usia dininya kurang. Dana triliunan rupiah yang tersedot tidak terfokus untuk pembinaan tapi lebih banyak dihabiskan untuk yang lain. Tenis meja lebih parah lagi, kompetisi kurang, uji coba atlet tidak ada, pembinaan usia dini melorot. Padahal dana di cabang ini tidak kurang.

Memaksimalkan peran PB/PP juga artinya dengan meningkatkan pendanaan untuk PB/PP. Selama ini memang sudah ada dana pembinaan ke mereka, tapi masih sangat kecil kalau berharap peran mereka lebih besar lagi. Caranya adalah dengan memangkas dana-dana pembinaan untuk KONI yang perannya sudah diambil oleh PB/PP. Pelatnas atau PAL atau apalah namanya sifatnya hanya untuk kordinasi saja guna menghadapi pesta-pesta olahraga sebelum didaftarkan ke KOI, bukan merupakan wadah program pembinaan prestasi, apalagi menjadi program andalan.

0 comments: