Tuesday, November 30, 2010

Sukses Asian Games, Sukses Relawan

Sebagai negara komunis yang masih besar, baik luas arealnya maupun penduduknya, kehadiran para relawan di Cina tidak mencerminkan negeri memiliki faham itu. Sukarelawan yang rata-rata berasal dari kalangan pelajar sekolah menengah atas dan mahasiswa seolah mewakili bahwa Cina bukanlah komunis sejati.

"Yang komunis itu penguasa dan pengurus partainya saja. Kami rakyat yang butuh makan, kerja sama dengan orang-orang lain yang bisa memenuhi kebutuhan hidup, sudah lupa dengan cara-cara komunis hidup" ujar Ahuk, tour leader yang membawa saya dan teman-teman lain berjalan-jalan keliling Guangzhou.

Lebih ekstrim lagi komentar Ayun, supir taksi. "Komunis di sini hanya lips service saja, hanya di omongan. Praktek sehari-hari, ya kapitalis," ujarnya.

Coba saja tengok kegiatan-kegiatan yang dilakukan para relawan di Asian Games XVI yang berlangsung 12-27 November itu. Mereka menyebar berbagi tugas. Tak heran kalau jumlah mereka yang diminta panitia sebanyak 500.000 orang langsung terpenuhi, bahkan dalam tahap pendaftaran melebihi jumlah tersebut. Mereka bertugas ada yang di luar arena dan di dalam arena.

Di stasiun kereta api umpamanya, mereka memberikan petunjuk jalan jika ada orang asing yang memerlukan jasa kereta tapi tidak mengerti untuk menggunakannya. Dari membeli karcis, jalur baris untuk masuk, hingga di dalam, terkadang mereka meminta kepada penumpang untuk melayani si tamu ini. Mereka melayani dengan ramah dan terlihat iklas tanpa rasa kesal sedikit pun.

Di jalan-jalan mudah sekali kita jumpai mereka, berdiri membawa perangkat Asian Games agar mudah orang mengenalinya. Nah di dalam stadion juga mereka tidak mengenal lelah dan keramahan. Ketika acara penutupan, adegan per adegan mereka peragakan agar penonton dapat melakukannya dan mendukung kemeriahaan acara. Mereka melakukan dengan senyum sumringah sepanjang acara.

Yang lebih berkesan adalah ketika kami pulang, dari menuruni tangga tribun, pintu stadion, sampai jalan-jalan menuju bis, mereka tak henti melambaikan tangan dengan mengucapkan terus menerus "Good Bye!"...

Luar biasa partisipasi mereka tanpa lelah dan dengan senyum khasnya. Mereka masih muda, seolah menggambarkan masa depan Cina adalah mereka. Mereka bekerja tanpa diberi honor, cukup dengan makan yang bon-bonnya akan ditukar kemudian.

Mau tahu jenis makan yang dilahapnya? Tidak macam-macam, misalnya makanan khas Amerika yang bertebaran di sana 24 jam, McD umpamanya. Cheri yang menjadi pemandu Menpora Andi Mallarangeng, makannya cukup dengan bubur. Jika kami makan bersama di restoran, mereka juga tidak aji mumpung tapi makan seadanya dan setelah itu menunggu di kursi lain sambil menanti tugas berikutnya.

Keramahan relawan juga menjadi pemandangan masyarakat di sana. Jika naik kereta kebetulan orang asing berdiri, tidak segan-segan anak-anak muda menawarkan tempat duduk. Mereka pun sering aktif bertanya kepada si asing. Salah satu tujuan mereka adalah memperdalam bahasa Inggrisnya.

Memang satu-satunya kekurangan yang ada dalam lingkungan Guangzhou itu adalah komunikasi dalam bahasa internasional. Sedikit sekali orang-orang di sana yang mengerti bahasa Inggris bahkan huruf latin. Keadaan ini mirip dengan Jepang tahun 1980-an, namun berkat kemauan kerasnya, kondisi Jepang telah berubah jauh.

Bukan tidak mungkin Cina begitu pula. Anak-anak muda di sana sudah mudah bergaul dengan orang asing dan menggunakan bahasa Inggris walau terpatah-patah. Keinginan keras itu menjadi ciri khas para relawan di sana, walau dengan perasaan yang tak karuan melihatnya.

Sukses Cina di gelanggang-gelanggang olagraga Asian Games XVI, sukses pula penyelenggaraannya dengan tulang punggung para relawan. Tak heran begitu hajatan penutupan usai, para tamu banyak yang menyalami mereka dengan mengucapkan terima kasih.

Bagaimana dengan relawan di Indonesia? Kita juga bangga dengan mereka yang bekerja di daerah-daerah bencana meletusnya Gunung Merapi, Mentawai, dan banyak lagi. Tapi, kalau di lingkungan olahraga, justru belum muncul semangat-semangat relawan bencana tersebut. Pembicaraan tentang relawan ini patut dikedepankan mengingat tahun depan kita akan menjadi tuan rumah SEA Games di Jakarta dan Palembang.

Kita punya contoh terakhir tentang relawan pada kejuaraan sepakbola se Asia tahun 2007. Di lapangan sukses dengan munculnya juara baru, negeri yang masih porak poranda, Irak. Tapi, di luar lapangan PSSI masih meninggalkan utang termasuk dengan honor para relawan itu.

Mungkinkah para relawan itu tanpa honor? Cukup makan saja? Masih menjadi pertanyaan besar, walau kita sudah diberikan contoh di depan mata oleh relawan-relawan bencana Merapi di mana mereka mampu menerobos tanpa pamrih daerah-daerah panas untuk menolong nyawa korban.

Bencana dan olahraga sangatlah berbeda. Di dalam bencana nilai kemanusiaannya begitu tinggi, sementara di olahraga yang muncul adalah hiburan terhadap prestasi si atlet. Di balik hiburan muncul dana yang cukup besar. Barangkali hal ini yang membuat tenaga sukarelawan tidak gratis dalam ikut menyukseskan event olahrga. Bisa saja ada dalih: "Demonstrasi saja dibayar. Jadi kenapa relawan SEA Games tidak dibayar?"

Contoh memang dimulai dari atas kepanitiaan. Setelah itu bisa ditiru oleh bawahan dan mungkin para relawan. Misalnya, mereka panitia juga tidak dibayar, atau kalau dibayar dengan harga yang tidak terlalu tinggi. Semua itu dilakukan dengan transparan, dan adil merata. Barangkali dengan sikap-sikap seperti ini, banyak yang ingin menjadi volunteer SEA Games 2011 nanti.

Satu tahun bukan waktu panjang. Mulailah berkampanye perlunya relawan dalam ikut menyukseskan peristiwa olahraga, dan Asian Games XVI Guangzhou telah memberikan contoh.

0 comments: